Currently set to Index
Currently set to Follow

Perkembangan Pasar: Sentimen Positif Stimulus AS

Perkembangan pasar minggu ini diawali dengan pasar ekuitas AS yang jatuh di hari Senin (19/10), dikarenakan oleh aksi jual atau sell-off yang menyebabkan tiga indeks utama Wall Street turun setidaknya sebesar 1,5%. Minggu ini China juga mengeluarkan laporan PDB yang menunjukkan pertumbuhan positif. Sementara itu kasus COVID-19 global telah mencapai angka 40 juta.

Perkembangan Stimulus AS

Untuk beberapa minggu terakhir, perkembangan mengenai stimulus AS masih tetap menjadi topik. Di hari Selasa (20/10), S&P 500 bangkit kembali dari aksi jual Senin ketika House Sepaker Nancy Pelosi terus bernegosiasi dengan Gedung Putih mengenai kesepakatan mendekati $ 2 triliun. Senat yang dikendalikan Partai Republik terus memberi isyarat bahwa mereka mendukung RUU sekitar seperempat ukuran itu. Kedua majelis Kongres perlu menyetujui undang-undang apa pun.

Saham mendapat dorongan ketika Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Charles Evans mengatakan dia “agak optimis” tentang pemulihan ekonomi 2021. Harapan baru akan kesepakatan stimulus baru yang membuat investor berani kembali membeli saham. Rally ini sempat terhambat menjelang penutupan karena Partai Demokrat mengesampingkan prioritas jadwal yang telah mereka tetapkan agar Gedung Putih menyetujui kesepakatan pada malam Selasa. 

Menurut tren baru-baru ini, S&P 500 telah tertahan di bawah 3,550 selama berminggu-minggu. Namun, reli yang kuat di sebagian besar sektor membantu meringankan beberapa penurunan pada hari Senin. Oleh karena rally saham ini, dolar AS pun melemah.

Pertumbuhan PDB China

Data terbaru yang keluar pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh sebesar 4,9% pada kuartal ketiga tahun ini dibandingkan waktu yang sama tahun lalu. Ekonomi China tumbuh sebesar 0,7% dalam tiga kuartal pertama tahun 2020 jika digabungkan. Angka ini sedikit di bawah perkiraan para analis, tetapi ekonomi China sekarang telah mendapatkan kembali semua pijakan yang hilang ketika lockdown virus corona membuatnya hanya bergerak di tempat untuknya pada awal tahun. Ini adalah pencapaian yang semakin mengesankan dengan fakta bahwa tidak ada ekonomi G20 lain yang diharapkan tumbuh tahun ini.

Bagaimana China melakukannya? Angka pembelanjaaan ritel melewati tingkat pra-pandemi untuk pertama kalinya dengan pertumbuhan sebesar 3.3% di bulan September dibandingkan tahun lalu. Penjualan online, yang mungkin tidak mengejutkan, terus meraung: Pembeli di China sekarang menghabiskan hampir seperempat dari pengeluaran mereka secara online, naik dari sekitar seperlima tahun lalu. Permintaan luar negeri untuk pasokan medis, elektronik, dan barang-barang rumah tangga telah mendorong pangsa ekspor global China ke rekor tertinggi. Ketika beberapa negara menghadapi beban kasus yang meningkat, program lockdown, testing, dan pelacakan ketat China telah memadamkan wabah berikutnya dan menjaga agar virus corona tetap terkendali.

Selain itu, China adalah salah satu negara pertama yang bergulat dengan pandemi. Kabar baiknya adalah keberhasilannya memberi para analis dan investor blueprint atau perencanaan strategi untuk pertumbuhan ekonomi ke depan. Pertumbuhan ekonomi China akan memiliki dampak karena dengan pertumbuhan stabil, maka mereka akan terus membeli produk-produk dari negara lain, termasuk Eropa dan Amerika. Tidak menutupi kemungkinan jika Indonesia akan mendapatkan keuntungan juga.

Tapi tahun 2020 belum berakhir. Biro Statistik Nasional China mengakui sulit untuk tetap dan lanjut berjaya sementara ekonomi global masih compang-camping. IMF memprediksi ekonomi AS akan menyusut 4,3% tahun ini dan zona euro 8,3%. Sementara untuk Indonesia, IMF merevisi kembali pertumbuhan ekonomi nasional menjadi minus 1,5% di tahun 2020.

Perkembangan Pasar: Indonesia 

Indonesia mencatat kenaikan utang, tetapi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai hal ini tidak hanya dialami Indonesia tapi juga merupakan tren yang sedang terjadi secara global di tengah pandemi Covid-19.

Kanada dan Jerman adalah contoh dua negara maju yang selama ini menerapkan defisit sangat hati-hati. Kanada memperlebar defisit masing-masing dari minus 0.3% di 2019 menjadi minus 19.9% di 2020 dengan rasio hutang 114.6%. Sementara untuk Jerman, dari surplus 1.5% di 2019 menjadi minus 8.2% di 2020 dengan rasio hutang terhadap PDB 73,3%. Untuk Indonesia sendiri, defisit diperlebar dari minus 2.3% menjadi minus 6.3% dengan rasio hutang 41.8% dari PDB.

Bank Dunia telah mencantumkan  Indonesia masuk dalam 10 besar negara berpendapatan menengah kecil dengan utang luar negeri terbesar.

Sedikit mengenai perkembangan COVID di Indonesia, per Selasa kemarin, tercatat +3,602 kasus baru dengan total kasus dari awal tahun adalah sejumlah 368,842. Jumlah kematian kemarin adalah +117 dengan total 12,734 kematian.

Perkembangan Pasar dan Earnings Week 

Selain itu, perusahan-perusahan besar di AS, juga yang termasuk dalam S&P 500 juga masih melanjutkan laporan pendapatan kuartal 3. Untuk pekan ini (19/10), ada 91 perusahaan dari S&P 500 yang melaporkan pendapatan kuartalan, termasuk IBM, P&G, Netflix, AT&T, Coca-cola, Intel, American Express, dll. 

Menurut data Refinitiv, hingga 16 Oktober, 49 perusahaan di Indeks S&P 500 telah melaporkan laba untuk Q3 2020. Dari perusahaan-perusahaan ini, 85.7% melaporkan laba di atas ekspektasi analis dan 14.3% melaporkan laba di bawah ekspektasi analis. Secara agregat, perusahaan melaporkan pendapatan yang 22,7% di atas perkiraan.

Salah satu dari 11 sektor dalam indeks diperkirakan akan melihat peningkatan pendapatan relatif terhadap 19Q3. Sektor kesehatan dan teknologi informasi memiliki tingkat pertumbuhan pendapatan tertinggi untuk kuartal tiga, sedangkan sektor energi memiliki antisipasi pertumbuhan terlemah dibandingkan dengan 19Q3.

Sejauh ini kita telah melihat data yang lebih bagus dari ekspektasi untuk beberapa perusahaan dalam S&P 500. Dengan optimisme akan stimulus AS berikutnya, pasar pun memiliki sentimen positif. Tetapi, perlu dipertimbangkan juga bahwa dengan semakin dekatnya pemilihan presiden AS, pasar mungkin tetap akan mengalami beberapa volatilitas dalam waktu dekat. Investor harus mempertimbangkan strategi untuk menggunakan periode volatilitas ini untuk membangun posisi pasar. 

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Online Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dan Indeks S&P 500 Futures dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun.

Investasi kamu aman karena disimpan dan dijamin oleh Kliring Berjangka Indonesia (BUMN). Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah berlisensi dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Segera download Pluang dan nikmati keuntungannya!

Mulai Investasi

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img