Currently set to Index
Currently set to Follow

Indeks Saham AS dan Bitcoin Kompak Mencari Jalan untuk Menguat Pekan Ini

Pekan lalu, indeks pasar saham AS mengalami periode yang sangat volatil. Alhasil, pasar ekuitas AS ditutup dengan nilai yang bervariasi, sesuai dengan prediksi sebelumnya.

Nilai indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,5% dan ditutup pada sesi terendah setelah menyentuh rekor tertinggi pada hari Rabu. Nasib serupa juga dialami oleh Indeks S&P 500 yang nilainya menurun 0,48% ke 3.811,15 akhir pekan lalu.

Di sisi lain, nilai indeks Nasdaq ditutup 0,5% lebih tinggi di hari Jumat, tetapi membukukan minggu terburuk sejak Oktober. Adapun, ketiga indeks saham utama AS semuanya memang ditutup lebih rendah untuk minggu ini, dengan Nasdaq mengalami penurunan nilai sebesar 4,9%.

Bergejolaknya nilai ketiga indeks saham tersebut disebabkan oleh minat investor yang beralih dari saham-saham teknologi ke saham sektor industri, keuangan, dan energi. Hal ini sejalan dengan prospek ekonomi AS yang diperkirakan akan terus membaik.

Prospek tersebut berhulu pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang melonjak dalam dua pekan terakhir lalu, mendorong beberapa investor untuk membuat langkah yang lebih defensif. Namun di sisi lain, perubahan ini juga menjadi indikasi bahwa tingkat inflasi yang lebih tinggi bisa terjadi di masa depan.

Hal ini menyebabkan investor mengalihkan minatnya dari saham sektor teknologi ke saham sektor energi, keuangan, dan lainnya. Bahkan, pergeseran ini ternyata terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Prediksi Saham Teknologi Tergantung Imbal Hasil Obligasi AS

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS memang tengah menekan saham-saham sektor teknologi, yang selama ini bertengger di papan atas pasar modal AS selama bertahun-tahun.

Saham teknologi sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil karena nilainya sangat bergantung pada pendapatan masa depan. Saat suku bunga naik, maka ekspektasi pendapatan di masa depan juga berpotensi tergerus inflasi. Ini lantaran suku bunga dan inflasi punya korelasi yang positif.

Hanya saja, sikap bank sentral AS yang belakangan terdengar dovish terhadap inflasi diperkirakan akan tetap menjaga imbal hasil saham teknologi tetap tinggi di masa depan. Meski memang, sikap otoritas moneter itu masih disikapi dengan adem ayem oleh pelaku pasar.

Prediksi Saham dan Ekonomi Tergantung Perkembangan Vaksin COVID-19

Pemulihan ekonomi AS, dan seluruh negara lainnya, akan sangat bergantung dengan realisasi program vaksinasi yang dijalankan oleh masing-masing. Ini mengingat vaksinasi adalah kunci pembukaan kembali aktivitas ekonomi (reopening).

Melansir data Bloomberg, 70,5 juta dosis, atau 21,2 dosis untuk setiap 100 orang, telah diberikan di AS hingga hari ini.

Sedangkan di Indonesia, data resmi Satgas COVID-19 menunjukkan angka vaksinasi dosis pertama bertambah 75.559. Artinya, total jumlah suntikan vaksinasi tahap pertama sudah mencapai 1.691.724.

Sejauh ini 102 negara telah mulai memvaksinasi orang untuk virus corona dan telah memberikan setidaknya 239,53 juta dosis vaksin. Untuk melihat perkembangan virus corona dan vaksinasi dapat dilihat di sini.

Di Tengah Prediksi Saham AS yang Belum Pasti, Bitcoin Mundur Dari Rekor Tertinggi

Per hari minggu (28/2), Bitcoin turun 6,39% menjadi US$43.165,78 per keping. Bitcoin telah turun sebanyak 26% dari level tertinggi tahun ini yaitu di US$58.354,14 pada 21 Februari. Harga yang melonjak ini terjadi di tengah meningkatnya keyakinan bahwa Bitcoin akan menjadi sarana investasi dan memiliki potensi sebagai alat pembayaran utama.

Perusahaan besar seperti BNY Mellon, manajer aset BlackRock Inc dan raksasa kartu kredit Mastercard Inc telah mendukung cryptocurrency. Tesla Inc, Square Inc, dan MicroStrategy Inc juga telah berinvestasi dalam bitcoin.

Pelemahan juga dialami oleh Ethereum, di mana harganya turun 8,88% menjadi $1.329,46 pada hari Minggu.

Melihat dari sisi analisis teknikal, harga Bitcoin telah jatuh di bawah rata-rata pergerakan eksponensial 20 hari (di US$47.441), yang merupakan indikasi pertama dimulainya koreksi yang lebih dalam.

Support penting berikutnya adalah simple moving average 50-hari di US$41.066. Harga Bitcoin belum ditutup di bawah titik support ini sejak 9 Oktober, oleh karena itu level tersebut dapat dikatakan cukup signifikan.

Selain itu, trader Bitcoin juga terus memantau level kunci US$44.000 – US$45.000. Para peneliti di perusahaan analitik on-chain Santiment percaya bahwa seluruh pasar aset kripto sekarang bergantung pada kepemilikan Bitcoin di atas level kunci ini.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img