Currently set to Index
Currently set to Follow

Prediksi: Bitcoin Mengarah ke Rp700 Juta, Saham AS Kian Menggebu

Pasar saham AS kembali membukukan minggu terbaik di awal Februari. Tetapi, data ketenagakerjaan menunjukkan hasil lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya. Lantas, apa lagi yang akan dipantau investor untuk minggu ini? Dan bagaimana prediksi pasar saham tersebut?

Pasar Saham AS Membukukan Minggu Terbaik Sejak November

Pasar saham AS membukukan minggu terbaik mereka sejak minggu pemilihan presiden di bulan November. Indeks S&P 500 dan Nasdaq berada di rekor tertinggi didorong oleh laporan keuangan yang cemerlang dari beberapa perusahaan terbesar di indeks tersebut, seperti Amazon dan Microsoft.

Tak hanya itu, kabar mengenai perkembangan vaksin yang baik dan stimulus fiskal AS mengundang banyak investor masuk ke pasar saham.

Nilai indeks pasar saham yang bergerak menuju rekor tertinggi baru tentu akan beriringan dengan kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan yang memimpin indeks. Sepanjang pekan lalu, banyak harga saham yang sedang berada dalam tren naik, kapitalisasi pasar yang membengkak dan rasio penghasilan per saham (Price to Earning Ratio) yang juga mengembang.

Menurut JPMorgan Asset Management, bobot 10 saham teratas di S&P 500 kini memiliki porsi sedikit di bawah 30% dalam membentuk indeks tersebut, di mana angka tersebut mendekati rekor tertingginya. 10 saham teratas tersebut memiliki rasio P/E rata-rata 32,2, atau lebih besar ketimbang rasio P/E seluruh indeks yakni 19,1. Saham teratas ini juga menyumbang sebesar 25,6% dari pendapatan keseluruhan S&P 500 selama 12 bulan terakhir.

Pemulihan berbentuk K bahkan lebih ekstrem di dalam neraca perusahaan publik di AS. Kurangnya keseimbangan ini bukanlah masalah di tahun 2020 di tengah pemulihan ekonomi. Setiap kali saham FAAMG mengalami sell-off, para investor telah siap untuk membeli ketika harga saham sedang jatuh.

Setelah kinerja pasar saham AS yang berkilau pada pekan lalu, mata pelaku pasar pada pekan ini akan tertuju pada stimulus fiskal sebesar US$1,9 triliun yang dicetuskan oleh Presiden AS Joe Biden. Pelaku pasar juga memusatkan perhatian pada kemampuan fraksi Partai Demokrat di senat untuk mendukung kebijakan tersebut.

Bagaimana dan kapan ini akan diterapkan, serta kemajuan dalam distribusi vaksin, akan menjadi dua katalis yang harus diperhatikan.

Baca juga: Intip Kebijakan Ekonomi Presiden Baru AS Joe Biden

Prediksi Saham AS Tak Terpengaruh Lemahnya Data Ketenagakerjaan

Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat penambahan 49 ribu pekerjaan baru ke pasar tenaga kerjanya sepanjang bulan lalu. Artinya, pemulihan ekonomi masih hangat karena AS masih terus memerangi dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomiannya. Kenaikan di bulan Januari terjadi setelah berbagai sektor ekonomi mengalami kerugian tajam pada Desember akibat infeksi virus yang kembali membabi buta.

Dalam laporan yang sama, tingkat pengangguran di AS juga disebut turun secara bulanan dari 6,7% ke 6,3%. Meskipun kedua ukuran tersebut secara signifikan lebih rendah dari titik tertingginya di April 2020, angka tersebut masih di atas tingkat pra-pandemi Februari 2020, di mana terdapat 5,7 juta pengangguran dengan tingkat tunakarya sebesar 3,5%.

Tetapi, investor tampaknya mengabaikan hasil dari laporan ini. Sebab, investor terus melanjutkan pembelian saham AS dan mendorong nilai S&P 500 mencapai minggu terbaiknya sejak November. Alhasil, prediksi saham AS diperkirakan masih tetap cerah.

Hal ini mungkin disebabkan karena investor menutup mata akan disrupsi ekonomi makro di jangka pendek. Sebaliknya, mereka berfokus pada jangka waktu di mana banyak warga AS telah divaksinasi demi menghentikan laju penularan COVID-19. Meski memang, target selesainya vaksinasi itu mungkin tidak akan sampai akhir tahun ini.

Selain Prediksi Saham, Harga Bitcoin dan Ethereum Lanjut Menguat

Di sisi lain, harga Bitcoin mengincar target level US$50 ribu atau lebih dari Rp700 juta per keping kurang dari sebulan, setelah harganya menembus level tertinggi sepanjang masa pada 2017 lalu.

Bitcoin menunjukkan tanda-tanda reli yang baru  setelah menembus area resistensi US$40 ribu, memicu harapan bahwa mungkin harga aset kripto ini akan mencapai level tertinggi barunya sepanjang masa.

Sangat penting bagi Bitcoin untuk tetap berada di atas level ini kedepannya. Analis Cointelegraph Markets, Michaël van de Poppe, mengatakan bahwa harga Bitcoin di atas US$42 ribu akan mendorong harga Bitcoin ke posisi US$50 ribu per kepingnya.

Ini adalah pertama kalinya Bitcoin melonjak di atas US$40 ribu selama 23 hari terakhir. Tetapi kali ini, sentimen pasar jauh lebih tenang, dan pasar derivatif tidak terlalu panas.

Nasib mujur juga tengah dialami oleh Ethereum yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, bahkan mendekati $2.000 per keping, pada pekan lalu. Setelah mencapai US$1.756,51, mata uang kripto terbesar kedua di dunia kembali turun di sekitar US$1.670 di Senin pagi.

Rekor tertinggi berasal dari minat perdagangan yang kuat pada koin DeFi, banyak di antaranya menggunakan jaringan Ethereum sebagai basisnya. Antisipasi juga meningkat akan peluncuran produk Ethereum berjangka oleh Chicago Merchantile Exchange (CME) Group.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img