Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Reksadana Pendapatan Tetap?

Reksadana pendapatan tetap adalah salah satu jenis investasi reksadana, di mana sebagian besar dana kelolaannya ditempatkan di obligasi atau efek utang lainnya seperti Efek Beragun Aset (EBA).

Sama seperti reksadana pada umumnya, reksadana pendapatan tetap memberikan akses luas kepada investor untuk mengakses diversifikasi aset.

Hanya saja, imbal hasil yang diterima investor bernilai sama setiap periodenya, alias “berpendapatan tetap”. Kondisi tersebut didasarkan pada imbal hasil obligasi dan efek utang dalam bentuk kupon yang biasanya dibayar secara periodik hingga tenggat waktu jatuh temponya.

Reksadana pendapatan tetap merupakan “saudara” dari reksadana pasar uang. Bedanya, dana kelolaan reksadana pendapatan tetap dialokasikan terhadap instrumen dengan masa tenor di atas 1 tahun.

Selain itu, karena dana dialokasikan pada surat utang, makanya instrumen ini berhubungan harmonis dengan tingkat suku bunga acuan. Misalnya, jika Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, maka tingkat bunga obligasi pun bisa terpengaruh.

Hal ini berbeda dengan reksadana pasar uang, di mana sebagian besar dana kelolaan ditempatkan di deposito dan instrumen surat berharga di bawah satu tahun. Kenaikan suku bunga acuan justru akan menurunkan imbal hasil di instrumen tersebut.

Baca juga: Apa Itu Reksadana Pasar Uang?

Apa Itu Reksadana Pendapatan Tetap?, Pluang

Mengenal Lebih Dalam Reksadana Pendapatan Tetap

Bagi kebanyakan investor, reksadana pendapatan tetap adalah cara investasi paling efisien bagi mereka yang ingin bergelut dan mendiversifikasikan asetnya di instrumen berpendapatan tetap. Sebab, prosesnya pun seperti reksadana pada umumnya, di mana investor hanya menyetor dana ke manajer investasi untuk kemudian ditempatkan di beragam instrumen.

Produk reksadana pendapatan tetap pun memiliki beragam jenis. Ada produk yang mencoba “meminimalisasi risiko” dengan menempatkan dana kelolaan di beragam aset sekaligus seperti surat utang pemerintah, surat utang korporasi, dan efek utang lainnya. Namun di sisi lain, terdapat pula produk reksadana pasar uang yang berfokus untuk mendulang imbal hasil tinggi dengan menempatkan dana di obligasi jangka pendek.

Apapun jenis produk reksadana pendapatan tetap yang dipilih, investor akan memperoleh imbal hasil per bulannya. Namun, nilainya bisa bervariasi antar periode.

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

Tolak Ukur Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap

Besar kecilnya imbal hasil dari reksadana pendapatan tetap utamanya ditentukan oleh kinerja dari aset dasarnya (underlying asset). Namun, terdapat pula beberapa faktor spesifik yang bisa mempengaruhi naik turunnya nilai instrumen satu ini.

1. Harga Unit Penyertaan (UP)

Setiap produk reksadana pendapatan tetap memiliki Nilai Aktiva Bersih (NAB), yang merupakan harga per satu unit reksadana, atau biasa disebut Unit Penyertaan (UP). NAB didasarkan pada nilai seluruh sekuritas di dalam portofolio produk reksadana tersebut yang berfluktuasi secara harian.

2. Tingkat Imbal Hasil (Yield)

Yield reksadana pendapatan tetap merupakan ukuran dari “cuan” yang diterima dari penempatan dana manajer investasi di instrumen pendapatan tetap. Tingkat imbal hasil ini dinyatakan dalam bentuk perentase per tahun. Misalnya, jika sebuah reksadana pendapatan memiliki yield 5% per tahun, maka artinya investor akan mendpaat cuan 5% per tahun.

Harga instrumen berpendapatan tetap selalu memiliki hubungan terbalik dengan yield-nya. Mengapa demikian?

Perlu diingat bahwa yield merupakan kompensasi dari risiko obligasi, yakni gagal bayar. Obligasi yang berkualitas bagus biasanya berharga mahal, sehingga risiko default-nya pun semakin mini. Makanya, imbal hasilnya pun lebih kecil. Begitu pun sebaliknya.

3. Tingkat Pengembalian Investasi (Total Return)

Tingkat pengembalian investasi reksadana pendapatan tetap adalah ukuran dari untung atau ruginya instrumen underlying asset tersebut dalam satu jangka waktu tertentu. Indikator inilah yang patut diperhatikan investor saat mengevaluasi reksadana pendapatan tetap.

Baca juga: Atur Risiko Investasi Melalui Reksadana, Ini 5 Hal Dasar yang Wajib Kamu Pahami!

Reksadana Pendapatan Tetap Adalah Investasi dengan Banyak Manfaat

Layaknya instrumen investasi lainnya, terdapat banyak manfaat dari investasi reksadana pendapatan tetap. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:

Keuntungan Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

1. Kemudahan Diversifikasi

Biasanya, penempatan dana dari produk reksadana pendapatan tetap akan dialokasikan ke aset-aset yang cukup beragam.

Misalnya, instrumen yang memiliki tanggal waktu jatuh tempo yang berbeda-beda. Hal ini dimaksudkan agar investor tidak langsung terpapar oleh risiko yang ditimbulkan oleh satu aset semata. Nah, pentingnya dan manfaat diversifikasi aset terdapat di artikel berikut.

Selain itu, kini investor pun bisa dengan mudah mendapatkan produk reksadana pendapatan tetap. Sehingga, instrumen ini bisa menjadi pilihan jitu bagi mereka yang ingin diversifikasi aset namun dengan harga terjangkau.

2. Dikelola oleh Pihak Profesional

Seperti yang dijelaskan di atas, berinvestasi di reksadana pendapatan tetap sangatlah mudah. Investor hanya perlu mengunjungi manajer investasi dan mempercayakan uangmu ke mereka.

Namun, bantuan profesional bagi investor dalam berinvestasi reksadana pendapatan tetap tak berhenti sampai di situ. Terdapat pihak lain, seperti analis surat utang dan analis pasar modal, yang selalu mengevaluasi informasi-informasi di pasar obligasi. Evaluasi tersebut nantinya digunakan manajer investasi sebagai dasar untuk memilih underlying asset bagi reksadana investor.

3. Likuid dan Nyaman

Banyak produk reksadana pendapatan tetap yang memperbolehkanmu menjual atau membeli unit reksadana setiap harinya. Bahkan, reksadana pendapatan tetap juga memperbolehkanmu menginvestasikan cuanmu secara otomatis demi mendulang keuntungan lebih banyak lagi di masa depan.

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap

Layaknya dua sisi mata uang, reksadana pendapatan tetap pun memiliki risiko tersendiri. Apa sajakah risiko tersebut?

1. Arus Penghasilan

Reksadana pendapatan tetap memberikan investor imbal hasil per bulannya, meskipun nominalnya berbeda-beda. Sayangnya, arus penghasilan seperti ini mungkin tidak cocok bagi mereka yang punya profil risiko agresif.

2. Risiko Suku Bunga

Investor perlu paham bahwa harga obligasi akan menurun jika suku bunga meningkat. Begitu pun sebaliknya. Hal ini patut dipahami investor karena bisa mempengaruhi imbal hasilnya di masa depan.

Biasanya, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap dengan tenggat waktu jatuh tempo yang lebih lama akan bereaksi cukup kuat dengan perubahan suku bunga. Sehingga, hal ini akan mempengaruhi besar kecilnya nominal pendapatan investor per bulannya.

3. Risiko Kredit

Reksadana pendapatan tetap biasanya digolongkan ke dalam dua jenis kualitas. Yakni, kualitas baik, di mana himpunan dana dialokasikan ke surat utang dengan pertingkat tinggi. Serta kualitas rendah, di mana dana ditempatkan di surat utang peringkat rendah.

Kalau investor tak bisa memilah-milah kualitas underlying asset ini, maka ia akan sangat rentan terkena risiko gagal bayar. Hal itu justru malah akan menyunat pendapatan reksadana yang dimilikinya.

Baca juga: Pengertian Pasar Uang, Apa Bedanya Dengan Pendapatan Tetap?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Fidelity

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img