Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Revolusi Industri 4.0?

Revolusi Industri 4.0 adalah siklus proses produksi barang dan jasa, di mana teknologi dan koneksi menjadi kunci utamanya. Di dalam revolusi industri ini, peran sumber daya manusia dalam proses produksi mulai digantikan oleh teknologi antar mesin (machine-to-machine) dan juga Internet of Things (IoT).

Dengan kata lain, di dalam revolusi industri 4.0, seluruh proses produksi mulai menuju otomatisasi dengan peran yang minimal dari sumber daya manusia. Sehingga, perusahaan-perusahaan bisa melaksanakan proses produksi dengan lancar dan bisa mendelegasikan sumber daya manusia yang dimiliknya ke bidang lain.

Baca juga: Apa Itu Revolusi Industri?

Apa Itu Revolusi Industri 4.0?, Pluang

Revolusi Industri 4.0 Adalah Kelanjutan Revolusi Industri Lain yang Sudah Ada

Revolusi industri 4.0 bukanlah bentuk baru dari adaptasi teknologi demi keberlangsungan industri. Malahan, revolusi ini adalah kelanjutan dari berbagai revolusi industri yang sudah berjalan berabad-abad lamanya.

Revolusi industri sendiri adalah perubahan pada proses produksi barang dan jasa, yang biasanya mampu memperbaiki kemampuan memproduksi secara massal dan membuat ongkos produksi kian murah.

Revolusi industri pertama kali terjadi pada awal abad 19 di Inggris Raya, di mana mesin uap dan mesin air menjadi motor utama produksi barang dan jasa secara massal.

Revolusi itu berlanjut ke revolusi industri kedua yang terjadi akhir abad 19 hingga awal abad 20. Pada periode tersebut, pemasangan jaringan rel kereta, telegraf, dan ketenaglistrikan membuat produksi barang dan jasa kian cepat dan efisien.

Perubahan tersebut dilanjutkan ke revolusi industri ketiga pada masa pasca perang dunia kedua. Selama masa-masa tersebut, proses produksi barang dan jasa sudah melibatkan teknologi komputer dan alat komunikasi modern. Otomatisasi mandiri pun lambat laun sudah mulai diterapkan.

Perubahan pola industri itu berlanjut ke revolusi industri 4.0 yang, menurut para ahli, sudah dimulai sejak 2011 silam. Kala itu, Jerman menjadi negara yang pertama kali mencoba mengadopsi revolusi industri tersebut.

Revolusi industri 4.0 pada awalnya adalah sistem produksi yang memanfaatkan sistem sensor untuk mengumpulkan data historis kapasitas produksi, yang nantinya akan digunakan oleh mesin-mesin canggih dalam menganalisis dan memperbaiki kinerja mereka secara mandiri.

Namun, kini salah satu ciri yang paling kentara dari revolusi industri 4.0 adalah munculnya perusahaan teknologi yang memanfaatkan data dan teknologi informasi sebagai landasan operasinya. Biasanya, alat yang mereka miliki bisa mengoptimisasi kerja secara sendiri dan bahkan bisa menjadi merekayasa kecerdasan manusia (Artificial Intelligence/AI) dalam melaksanakan fungsi-fungsi yang biasa dikerjakan manusia.

Meski demikian, secara keseluruhan, revolusi industri ini punya empat prinsip utama yaitu:

  1. Interkoneksi
  2. Transparansi informasi
  3. Bantuan teknologi tinggi
  4. Pengambilan keputusan secara desentralisasi

Hingga saat ini, Jerman masih dikenal sebagai negara yang paling getol membiayai riset revolusi industri 4.0, dengan alokasi biaya riset dan pengembangan sebesar US$216 juta hingga saat ini.

Baca juga: Apa Itu Artificial Intelligence?

Apa Dampak dari Revolusi Industri 4.0?

Dampak dari revolusi industri 4.0 tentu bisa dilihat dari aspek produktivitas yang kian membaik dan ongkos produksi yang lebih efisien, mengingat peran manusia yang lambat laun bisa digantikan mesin.

Selain itu, dampak lainnya adalah perkembangan ukuran bisnis yang kian besar. Firma konsultasi keuangan KPMG sebelumnya mengatakan bahwa ukuran pasar komponen penyokong revolusi industri 4.0 bisa mencapai US$4 triliun pada 2020, atau hampir empat kali lipat dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun yang sama.

Namun, dampak buruk dari revolusi industri 4.0 adalah semakin banyak lapangan pekerjaan yang hilang dan digantikan dengan mesin. Sehingga, manusia harus mencari keahlian atau kemampuan lain. Jika manusia tak bisa beradaptasi, maka mereka akan susah mendapat pekerjaan.

Pada 2017 lalu, firma konsultasi multinasional McKinsey mengatakan bahwa 6 dari 10 jenis pekerjaan yang ada saat ini memiliki 30% aktivitas yang dikerjakan dengan mesin. Laporan itu menyebutkan bahwa 375 juta penduduk, atau 14% dari angkatan kerja global, harus segera mencari pekerjaan baru atau menambah keahliannya jika perannya tak ingin tergantikan oleh mesin.

Baca juga: 3 Pengusaha Sukses di Industri Media, Siapa yang Paling Kaya?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: TechRadar, McKinsey Report

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img