Apa Itu Risk Averse?

DEFINISI

Investor Konservatif atau Risk Averse adalah investor yang menghindari resiko dan biasanya lebih memilih opsi investasi konservatif untuk meminimalkan potensi kerugian.

Memahami Risk Averse Investing (Investasi yang menghindari resiko)

Seseorang yang menghindari resiko biasanya tidak nyaman dengan pilihan investasi beresiko. Mereka memiliki toleransi rendah terhadap resiko. Investor yang menghindari resiko biasanya lebih menyukai peluang investasi yang konservatif, bahkan jika itu berarti  dengan tingkat pengembalian yang lebih rendah.

Termasuk rekening tabungan, sertifikat deposito (CD), dan obligasi tertentu. Risk-seeking investors adalah kebalikannya – Mereka umumnya memilih investasi dengan resiko dan potensi pengembalian yang lebih tinggi, seperti saham dan reksadana. Sementara menghindari resiko dapat membantu investor menghindari kerugian, dapat juga diartikan memilih investasi dengan rata-rata tingkat pengembalian yang lebih rendah.

CONTOH

Bayangkan Penny ingin mulai berinvestasi untuk pertama kalinya. Dia selalu memiliki toleransi yang rendah terhadap resiko, jadi dia memutuskan menyewa penasehat keuangan untuk mempelajari tentang peluang investasi konservatif. Penasihatnya menyarankan agar ia memasukkan uangnya ke dalam rekening tabungan dengan hasil tinggi dan tingkat bunga obligasi pemerintah tetap, di mana keduanya menawarkan penghasilan tetap.

Dengan strategi ini, kemungkinan Penny tidak akan melihat hasil yang signifikan, tetapi besar kemungkinan dia akan mendapatkan uangnya kembali dengan bunga yang rendah.

Kesimpulan

Berinvestasi secara Risk Averse adalah ibarat membeli minivan alih-alih sepeda motor …

Mungkin kamu tidak akan sampai tujuan dengan cepat, dan banyak orang berpikir bahwa minivan yang kamu beli kurang menyenangkan. Namun, jika kamu mencari keamanan, minivan merupakan jalan yang harus ditempuh. Demikian juga dengan risk-averse investments yang mungkin tidak akan memberi keuntungan besar, dan beberapa orang tidak menganggapnya menyenangkan. Tetapi pada akhirnya, besar kemungkinan kamu akan mendapatkan uang kamu kembali beserta dengan bunganya.

Ketahui Lebih Lanjut …

Bagaimana cara kerja investasi risk averse?

Apa strategi investasi risk averse?

Apa itu risk-averse vs risk-seeking vs risk-neutral?

Apakah baik untuk menghindari risiko? 

Bagaimana Cara Kerja Investasi Risk Averse?

Istilah risk averse (menghindari risiko) dapat berlaku dalam skenario apapun, tetapi muncul secara teratur di dunia keuangan dan investasi. Risk averse investors adalah investor yang mencari peluang investasi berisiko rendah untuk mengurangi potensi kerugian. Demi mengurangi resiko, mereka juga bersedia menerima pengembalian yang lebih kecil.

Peluang investasi tertentu adalah pilihan yang baik bagi investor yang enggan mengambil resiko karena lebih tidak stabil dan lebih memungkinkan investor mengembalikan uangnya. Termasuk rekening tabungan hasil tinggi, sertifikat deposito (CD), dan obligasi pemerintah.

Pada titik tertentu, orang-orang dalam perjalanan investasinya cenderung memiliki toleransi yang rendah terhadap resiko. Misalnya, mereka yang sudah pensiun atau sudah dekat dengan pensiun cenderung memilih investasi dengan sedikit atau tanpa resiko ketika mereka bisa. Mereka membutuhkan uang untuk membiayai pensiunnya dan tidak dapat menunggu lama untuk mendapatkan kembali asetnya setelah mengalami penurunan.

Investor yang menabung untuk tujuan jangka pendek, seperti uang muka rumah atau pernikahan dalam beberapa tahun ke depan, mungkin lebih baik memilih investasi berisiko rendah. Mereka tidak punya waktu untuk melakukan riset pasar setelah mengalami penurunan. 

Apa Strategi Investasi Risk Averse?

Bagi kamu yang ingin tetap dengan investasi berisiko rendah, beberapa opsi seperti menggabungkan pengembalian sederhana dengan resiko minimum, antara lain :

Rekening Tabungan (Savings  Accounts)

Rekening tabungan di bank adalah salah satu tempat paling aman untuk menyimpan uang. Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) mengasuransikan hingga $ 250.000 yang sudah kamu setorkan dalam rekening tabungan di bank tertentu. Kamu dapat mengakses uang kapanpun, dengan jaminan suku bunga, meskipun dapat berubah seiring waktu.

Banyak suku bunga rekening tabungan tidak mendekati 1 persen, tetapi beberapa rekening tabungan dengan hasil tinggi (high-yield) menawarkan harga yang lebih kompetitif. Sebagai contoh, pada Januari 2020, beberapa bank menawarkan rekening tabungan dengan persentase hasil tahunan sekitar 2 persen. 

Rekening Pasar Uang (Money Market Account)

Pikirkan rekening pasar uang sebagai kombinasi dari rekening giro dan tabungan. Ini adalah akun berbunga yang dapat kamu temukan di bank atau credit union setempat. Uang akan menghasilkan bunga, biasanya pada tingkat yang lebih tinggi daripada rekening tabungan, tetapi mungkin juga kamu memiliki buku cek atau kartu debit untuk akunmu.

Rekening pasar uang biasanya memiliki batasan jumlah penarikan yang dapat dilakukan per bulan dan terkadang persyaratan saldo minimum lebih tinggi daripada rekening tabungan. Rekening pasar uang juga diasuransikan oleh FDIC hingga $ 250.000. 

Sekuritas  Treasury (Treasury Securities)

Departemen Keuangan AS mengeluarkan beberapa jenis sekuritas untuk mengumpulkan uang, termasuk tagihan Treasury (T-bills) dan obligasi Treasury (T-bonds). T-bills jatuh tempo dalam setahun, tanpa membayar bunga secara teratur, sedangkan T-bonds jatuh tempo dalam 10 tahun atau lebih dan harus membayar bunga dua kali setahun.

Masa pakai sekuritas ini bisa berkisar dari paling tidak empat minggu untuk beberapa T-bills, hingga 30 tahun untuk T-bonds. Sekuritas treasury adalah beberapa investasi teraman yang dapat kamu ikuti, karena memiliki dukungan penuh dari pemerintah federal. Kamu mendapatkan jaminan untuk memulihkan uang pokok dan bunga. Namun, ada beberapa risiko kenaikan suku bunga pasar atau inflasi, dapat membuat obligasi dengan tingkat bunga tetap (fixed-rate bonds) dan tagihan (bills) dimana keduanya merupakan jenis investasi yang relatif kurang menarik.

Obligasi Korporasi (Corporate Bonds)

Perusahaan juga menerbitkan obligasi untuk mengumpulkan uang, seringkali digunakan untuk modal proyek atau mendanai pertumbuhan bisnis. Tidak ada jaminan seperti obligasi Treasury, karena obligasi korporasi tidak mendapat dukungan dari pemerintah federal.

Tetapi obligasi korporasi masih dianggap beresiko rendah, selama memiliki peringkat AAA dari salah satu lembaga pemeringkat kredit utama. AAA adalah peringkat tertinggi yang dikeluarkan oleh lembaga, yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki resiko kredit minimal dan telah menunjukkan kelayakan kredit. 

Saham Dividen (Dividend Stocks)

Sementara semua saham memiliki risiko, saham dividen dapat memberikan penghasilan yang handal. Saham dividen adalah mereka yang membayar dividen (pembayaran reguler yang dilakukan perusahaan kepada pemilik saham) kepada pemegang saham setiap tahun. Saham dividen tunduk pada volatilitas pasar seperti saham lainnya.

Tetapi pendapatan dividen yang diberikan dapat membantu mengimbangi potensi kerugian atau meningkatkan potensi keuntungan. Perusahaan selalu dapat berhenti mengeluarkan dividen, tetapi saham dividen tersebut cenderung lebih fokus pada pertumbuhan yang stabil. Bagaimanapun, sebuah perusahaan akan ragu untuk menjanjikan dividen kepada investor kecuali jika diharapkan terus dapat mendanai perusahaan dengan pendapatannya.

Sertifikat Deposito (CD)

Sertifikat deposito (CD) adalah produk keuangan yang ditawarkan bank dan credit union. Pelanggan menyetor lump-sum (uang yang dibayarkan sekaligus) dan membiarkannya untuk jangka waktu tertentu, kemudian lembaga keuangan membayarkannya kembali dengan bunga. CD dapat bertahan beberapa bulan atau selama 10 tahun. CD tidak menawarkan potensi pengembalian seperti saham, tetapi merupakan opsi investasi yang lebih aman, karena memiliki jaminan pengembalian. Suku bunga CD kadang-kadang lebih tinggi daripada tabungan rata-rata atau rekening pasar uang karena kamu tidak diperbolehkan mengambil uang. FDIC mengasuransikan dana ini hingga $ 250.000.

Ingatlah bahwa, sementara beberapa investasi kurang berisiko dibandingkan yang lain, masih ada peluang untuk kehilangan uang dengan berinvestasi di saham atau obligasi. Bahkan dengan rekening giro, tabungan atau CD, kamu mungkin harus bertanggung jawab atas biaya atau penalti. Atau mungkin kamu ingin berkonsultasi dengan penasehat dan melakukan riset untuk memahami risiko dan keuntungan yang akan didapat sebelum berinvestasi. 

Apa itu Risk Averse vs Risk Seeking vs Risk Neutral?

Kebalikan dari risk averse (menghindari risiko) adalah risk seeking (mencari resiko), yang menggambarkan investor yang mencari investasi yang lebih fluktuatif dan tidak pasti untuk peluang pengembalian yang lebih tinggi. Sementara banyak orang fokus pada mempertahankan kekayaan dan menumbuhkannya dengan mantap dari waktu ke waktu, investor pencari risiko lebih agresif dalam meningkatkan kekayaan. Mereka mungkin melakukan ini tidak hanya untuk pengembalian potensial atas investasi mereka, tetapi juga untuk kesenangan yang membawa risiko. 

Orang-orang ini cenderung mencari saham yang beresiko, serta investasi beresiko tinggi lainnya seperti investasi malaikat (angel investing) dan modal ventura (venture capital). Mereka juga dapat memilih kehidupan kewirausahaan, melepaskan pekerjaan yang aman dengan gaji dan tunjangan demi mendapatkan kesenangan dan potensi pengembalian dari memulai bisnis sendiri. Potensi kegagalan tidak membuat mereka takut seperti investor yang menghindari risiko – Hasil yang tidak diketahui seringkali menjadi bagian dari kesenangan mereka. 

Investor yang netral (risk neutral) tidak mempertimbangkan tingkat resiko sama sekali ketika mempertimbangkan peluang investasi – Mereka hanya melihat kemungkinan pengembalian. Meskipun investor pencari risiko (risk seeking) mungkin menikmati risiko, investor yang netral tidak memperhitungkan risiko. Faktanya di dunia nyata, sebagian besar investor tidak netral resiko. 

Bayangkan kamu bisa menginvestasikan $ 500 untuk pengembalian yang dijamin $ 50. Atau  menginvestasikan jumlah yang sama untuk peluang 50 persen dari untung $ 100. Risk averse Investor (investor yang menghindari resiko) kemungkinan besar akan memilih hal yang pasti untuk pengembalian $ 50. Risk-seeking Investor (investor yang mencari resiko) mungkin akan memilih opsi yang lebih beresiko, sebagian untuk pengembalian potensial dan sebagian lagi karena menikmati resiko. Risk neutral Investor (investor yang netral) akan memilih opsi kedua, mengabaikan resiko dan lebih fokus pada potensi pengembalian tertinggi.

Apakah Baik untuk Menghindari Risiko?

Apakah masuk akal untuk menjadi investor yang menghindari resiko tergantung pada situasi dan preferensi. Ada saat-saat tertentu ketika penasihat keuangan mungkin akan merekomendasikan strategi investasi konservatif. Misalnya, investor yang hampir memasuki masa pensiun mungkin ingin memindahkan dana ke opsi beresiko rendah, karena mereka hidup dengan uang tersebut.

Memilih investasi yang lebih aman adalah pilihan tepat kapan pun kamu menyisihkan uang yang akan segera digunakan kembali. Volatilitas pasar saham bisa baik untuk tujuan keuangan lima atau bahkan 30 tahun ke depan, tetapi mungkin kamu ingin mengambil sedikit resiko jika menginvestasikan uang yang akan kamu butuhkan dalam satu atau dua tahun.

Pengalihan resiko memang memiliki biaya peluang (opportunity cost). Pengembalian yang akan kamu dapatkan pada investasi berisiko rendah seperti rekening tabungan dan obligasi kemungkinan tidak bisa dibandingkan dalam jangka panjang dengan pengembalian tahunan rata-rata 10% yang telah dilihat pasar saham sejak 1928 (tidak disesuaikan dengan inflasi).

Dengan investasi berisiko rendah, pengembalian mungkin tidak hanya gagal untuk mengikuti pasar saham, tetapi juga dengan inflasi. Dalam satu tahun di mana rekening tabunganmu membayarmu dengan tingkat bunga 2 persen dan inflasi tumbuh sebesar 3 persen, pada  dasarnya kamu akan kehilangan uang.

Para penasihat keuangan sering merekomendasikan untuk memilih strategi investasi yang lebih agresif untuk masa pensiun ketika kamu lebih muda dan beralih ke investasi yang tidak terlalu beresiko ketika semakin mendekati masa pensiun.

Simak juga:

Apa Itu Agunan (Collateral)?

Apa Itu EPS (Laba per Saham)?

Recent Articles

Related Stories