Currently set to Index
Currently set to Follow

Apa Itu Strategi Investasi Agresif?

Baru kali pertama mendengar istilah strategi agresif dan ingin mengetahui lebih jauh pengertian strategi investasi agresif? Strategi agresif adalah strategi dalam berinvestasi yang mengacu pada gaya manajemen portofolio yang mencoba memaksimalkan keuntungan dengan mengambil tingkat risiko relatif lebih tinggi.

Pada umumnya, strategi untuk mencapai pengembalian yang lebih tinggi dari rata-rata biasanya menekankan apresiasi modal sebagai tujuan investasi utama. Pengembalian tinggi terbilang lebih penting daripada pendapatan atau keamanan pokok.

Pengertian strategi investasi agresif melibatkan alokasi aset dengan bobot substansial dalam saham dan mungkin sedikit atau tidak alokasi untuk obligasi atau uang tunai. Karena itu, strategi agresif adalah strategi yang dianggap cocok untuk kalangan investor muda dengan ukuran portofolio kecil.

Pengalaman dan cakrawala lebih luas dalam berinvestasi memungkinkan para investor pemula ini untuk kelak mengatasi fluktuasi pasar. Kerugian di awal karier seseorang memiliki dampak lebih kecil daripada nanti.

Karena itu, penerapan strategi agresif adalah hal yang sebaiknya dilakukan oleh para investor pemula untuk lebih bijak mempelajari fluktuasi pasar. Terlepas dari usia investor pemula tersebut, toleransi risiko yang tinggi merupakan prasyarat mutlak untuk strategi investasi agresif.

Baca juga: 7 Langkah Optimal untuk Bangun Portofolio Investasi dan Neraca Keuangan

Memahami strategi agresif adalah yang paling cocok untuk pemula

Strategi agresif adalah strategi yang bergantung pada bobot relatif dari kelas aset berisiko tinggi dan sekaligus imbal hasil yang tinggi. Dalam portofolio, pilihan investasi yang masuk ke dalam kategori ini adalah saham/ekuitas dan komoditas.

Portofolio A yang memiliki alokasi aset 75% ekuitas, 15% pendapatan tetap, dan 10% komoditas akan dianggap cukup agresif. Ini lantaran 85% dari portofolio tersebut dibobotkan ke ekuitas dan komoditas.

Namun, portofolio ini masih kalah agresif dibandingkan Portofolio B. Kategori aset dalam Portofolio B meliputi alokasi pada 85% ekuitas dan 15% komoditas.

Dua jenis portofolio berbeda ini menunjukkan bahwa bahkan komposisi saham dapat mempengaruhi profil risiko suatu portofolio investasi secara signifikan.

Misalnya, portofolio dengan komponen ekuitas yang hanya terdiri dari saham-saham blue chip dianggap kurang berisiko dibandingkan portofolio dengan saham-saham kapitalisasi kecil.

Jika pembelian saham-saham blue chip ini diaplikasikan pada dua contoh portofolio (Portofolio A dan Portofolio B), maka bisa dianggap Portofolio B kurang agresif. Ini menunjukkan strategi agresif adalah apa yang dijalankan oleh Portofolio A.

Aspek lain dari strategi investasi agresif adalah berkaitan dengan alokasi. Strategi yang hanya membagi semua uang yang tersedia secara merata menjadi 20 saham berbeda bisa menjadi strategi yang sangat agresif. Namun, membagi semua dana investasi secara merata menjadi hanya ke alokasi 5 saham berbeda bisa dibilang lebih progresif lagi.

Selain pertimbangan risiko dari jenis aset dan alokasi, strategi agresif adalah juga strategi yang mencakup perputaran yang tinggi.

Artinya, investor berusaha mengejar saham yang menunjukkan kinerja relatif tinggi dalam waktu singkat. Perputaran yang tinggi dapat menghasilkan keuntungan lebih tinggi, tetapi juga dapat mendorong biaya transaksi lebih tinggi, sehingga meningkatkan risiko kinerja portofolio.

Baca juga: Apa Sih Pentingnya Membangun Portofolio Saham?

Strategi investasi agresif dan manajemen aktif

Strategi agresif membutuhkan manajemen yang lebih aktif daripada strategi “beli-dan-tahan” (“buy and hold”) yang konservatif. Ini karena strategi ini memungkinkan portofolio menjadi lebih tidak stabil sehingga memerlukan penyesuaian yang sering, tergantung pada kondisi pasar.

Lebih banyak penyeimbangan kembali (rebalancing) juga diperlukan untuk mengembalikan alokasi portofolio ke tingkat target mereka. Volatilitas aset dapat menyebabkan alokasi menyimpang secara signifikan dari bobot aslinya.

Proses tambahan ini mendorong biaya yang lebih tinggi karena manajemen portofolio investasi dengan strategi agresif adalah kegiatan yang memerlukan lebih banyak staf untuk mengelola situasi pasar.

Beberapa tahun terakhir ini, telah terjadi tekanan balik yang signifikan terhadap strategi investasi aktif. Banyak investor telah menarik aset mereka dari hedge fund, karena kinerja manajer yang kurang baik. Sebaliknya, beberapa memilih untuk menempatkan uang mereka dengan manajer pasif.

Para manajer dengan strategi pasif ini mengikuti gaya investasi yang menggunakan pengelolaan dana indeks untuk rotasi strategis. Dalam kasus ini, portofolio investasi pasif cenderung mencerminkan indeks pasar, seperti indeks S&P 500.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Sumber: Investopedia

Simak juga:

Apa Hukum Membeli Emas Digital? ini Fatwa MUI yang mengaturnya

5 Trik Cerdik Bagaimana Semestinya Investor Pemula Menghadapi Inflasi

Apa Itu Strike Price?

Investasi Saham Sesuai Kondisi Pasar, Bagaimana Caranya?

Cuan dengan Manfaatkan Celah Bid Ask Spread untuk Dapatkan Untung

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img