Currently set to Index
Currently set to Follow

Strategi Short Selling bagi Pemula

Peluang untuk mendapatkan cuan bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Termasuk ketika pasar aset sedang mengalami downtrend. Nah, salah satu cara agar portofoliomu menghijau kala pasar lagi merah membara adalah dengan melakukan short selling 

Sebelumnya, jika Sobat Cuan belum tau apa itu short selling, kamu bisa membaca pengertiannya di sini dulu ya!

Metode trading secara short selling mungkin bisa kamu lakukan saat ini karena momennya memang lagi downtrend. Di aset kripto, contohnya, dua koin dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin dan Ethereum, masing-masing sudah anjlok 43,73% dan 40,25% dalam sebulan.

Koreksi bukan hanya terjadi pada kripto dengan market cap besar saja, melainkan hampir semua kripto mengalami tren serupa. Termasuk Dogecoin, yang merupakan andalan sang junjungan kripto Elon Musk.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga bernasib setali tiga uang. IHSG sempat menyentuh level 5760 dengan fluktuasi yang masih sulit diprediksi. Beberapa emiten blue chip seperti UNVR diperdagangkan pada harga terendahnya dalam lima tahun terakhir tanpa sinyalemen akan membaik.

Dengan demikian, short selling bisa jadi pilihan menarik, bukan? Namun, jangan asal nyemplung, Sobat Cuan! Kamu harus memahami dulu rambu-rambu sebelum melakukan strategi trading satu ini.

Strategi Short Selling bagi Pemula, Pluang

Kenali 2 Rambu Ini Sebelum Terjun ke Short Selling

1. Tren Adalah Teman

Short selling memang harus dilakukan dengan perhitungan yang matang. Ihwal kapan harus masuk ke pasar dan di level mana kamu harus mengambil margin untuk cuan pun butuh strategi mumpuni.

Namun, meski berisiko, keuntungan yang didapatkan juga sepadan meski tidak bisa dilakukan di semua pasar keuangan. Nah, dalam hal ini, kunci cuan short selling terletak pada persepsimu dalam membaca tren pergerakan harga aset.

Meski sulit memprediksi pasar yang terlalu bergejolak, downtrend mengubah arah spekulasi para trader. Jika kamu biasanya membeli saat harga rendah dan menjual saat harganya tinggi, downtrend membuat trader berspekulasi sebaliknya. Hal inilah yang membuat short selling marak saat pasar sedang bearish. 

Jadi, kamu bukan cuma bisa cuan saat pasar menghijau saja, tetapi juga saat grafiknya tengah merah membara. Seperti kata analis keuangan terkenal dari Wallstreet, Martin Zweg, “Tren adalah teman”.

2. Waspada Jebakan Short Squeeze 

Bertransaksi di pasar saham maupun instrumen keuangan lainnya pada dasarnya memiliki prinsip yang sama: Jika kamu mau untung, kamu harus disiplin pada timing dan manajemen risiko yang terencana.

Hanya saja, pasar terkadang doyan memberi jebakan. Nah, bagi para short seller, jebakan yang paling ngeselin adalah momen short squeeze. Apakah itu?

Kadang, pasar yang lagi merah tiba-tiba bisa melonjak naik lantaran trader yang melakukan aksi beli dalam rangka akumulasi aset lebih banyak dari trader yang melakukan short seliing. Nah, hal inilah yang disebut short selling.

Secara singkatnya, short squeeze adalah kondisi di mana trader membeli aset dalam jumlah banyak dan memaksa short sellers menyerah melakukan short selling. Alhasil,short sellers diliputi rasa Fear of Missing Out (FOMO) dengan ikut berburu-buru menjual asetnya daripada buntung. Sobat Cuan pasti ingat dengan kejadian saham Game Stop pada awal tahun ini, bukan?

Saat melakukan short selling, kamu harus mewaspadai kondisi ini dengan membuat perhitungan yang jitu dan akurat. Tidak ada cara yang paling tepat untuk menghindari jebakan lonjakan harga mengingat psikologis trader di pasar sama dinamisnya dengan pasar itu sendiri.

Namun, disiplin dan akurasi juga perencanaan yang baik akan meminimalisir resiko tersebut.

Baca juga: Apa Itu Sell in May and Go Away?

Tips Jitu Short Selling 

Sejalan dengan risiko terjebak short squeeze, praktik short selling memang memiliki potensi cuan yang menggiurkan. Kuncinya ialah dengan membuka penawaran dan permintaan dalam skema yang defensif mengingat fluktuasi pasarnya sudah cukup intimidatif.

Nah, agar kamu selamat sentosa dalam menjalankan short selling, berikut adalah tips yang bisa kamu ikuti!

1. Hindari Keramaian saat Short Selling

Short selling adalah strategi melawan tren yang dibentuk oleh mekanisme pasar. Sobat Cuan mungkin memiliki keyakinan kuat bahwa pasar akan turun, namun keramaian dapat membuat keyakinanmu runtuh. 

Makanya, hindari keramaian. Pasang bidding kamu pada posisi yang sepi. Jika sudah mulai ramai, kamu mungkin harus mencari strategi lain sebelum terjebak lonjakan harga. 

2. Pilih Sektor Terlemah 

Tips ini berlaku jika kamu mau short selling di pasar saham.

Keruntuhan harga pada saham di sektor yang kuat mungkin memang menggiurkan untuk dibaca, namun tidak untuk dijadikan pertaruhanmu melawan pasar. Makanya, kamu perlu meminimalisir risiko dengan melakukan short selling pada sektor yang lemah. 

3. Hindari Musim Uptrend 

Short selling tidak disarankan saat pasar sedang hijau. Meski saham atau instrumen incaranmu tampaknya akan terus koreksi, trader lain yang sedang bergairah dapat berkerumun sewaktu-waktu dan membuat tebakanmu meleset.  

Selain itu, kamu juga tidak disarankan untuk melakukan short selling pada pasar dengan volume rendah. Mengapa? Sebab, sebaiknya kamu melakukannya dengan tempo cepat yang mungkin tidak akan tercapai jika penawaran sedang sepi. 

4. Merendah untuk Menang 

Kamu bisa ikuti nasihat bijak “merendah untuk menang” agar tidak terjebak saat melakukan short selling.

Ambil posisi saat indeks utama sedang berfluktuasi. Konflik ini memicu sinyal jual dari divergensi bearish. Kamu juga harus waspada untuk keluar dari sana secepatnya jika grafik berubah arah agar kerugianmu terkendali. 

Baca juga: Mau Menabung Aset Kripto? Yuk, Kenalan dengan Konsep Liquidity Pools!

5. Hindari Saham yang Kerap jadi Buah Bibir 

Trader suka sekali bermain aset yang sedang hangat diperbincangkan media. Aset seperti ini bereaksi cepat sehingga trader mengira sedang menemukan sumber uang dari fluktuasinya. Namun, aset seperti ini kurang cocok bahkan beresiko tinggi untuk short seller. 

Baca juga: Simak Cara Panen Cuan dari Mahar dan Hadiah Pernikahan di Sini!

6. Tips Short Selling Paling Penting – Proteksi Kerugianmu 

Kamu harus tahu kapan harus berhenti saat tren berbalik arah. Strategi untuk memproteksi kerugian juga harus memperhitungkan di level mana kamu bisa impas. Makanya, berhentilah short selling sebelum harga aset bergerak menuju titik impas itu. 

Namun, kamu juga bisa memproteksi kerugianmu dengan melakukan diversifikasi aset. Trading memang bikin kamu mendulang cuan luar biasa — kalau jitu. Namun, potensi ruginya pun terbilang kencang.

Dengan diversifikasi, kamu bisa menebar risiko trading ke beberapa aset investasi lain. Selain itu, banyak sekali manfaat diversifikasi yang lain, yang bisa kamu baca di artikel ini.

Kalau Sobat Cuan mau diversifikasi aset, mending kamu lakukan hal tersebut di Pluang! Sebab, kamu bisa berinvestasi emas, indeks S&P 500, aset kripto, dan reksa dana hanya dalam satu aplikasi saja! Yuk, download Pluang di sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Coinmarketcap, Glintz

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img