Pengembangan Vaksin Covid-19, Pertaruhan antara Pandemi dan Ekonomi

Tidak terasa kita telah memasuki Fase III pemulihan ekonomi di Indonesia. Angka kasus positif COVID-19 terus meningkat dan kita tetap harus beradaptasi dengan “New Normal”. Pemerintah terus mengupayakan solusi terbaik dan seimbang antara pemulihan ekonomi dan munculnya cluster baru kasus COVID-19. Di luar itu, pasar sudah menunjukkan sentimen yang positif. Penelitian untuk vaksin COVID-19 pun terus berlangsung dan pihak terkait berusaha untuk mengakselerasi pengembangan vaksin. 

Pengembangan Vaksin Covid-19 

Perkembangan dari pembuatan vaksin COVID-19 terus berlanjut dan ditargetkan selesai pada awal 2021. Tetapi kelihatannya proses penemuan vaksin ini tidak akan secepat yang ditargetkan. Ada beberapa metode yang digunakan untuk uji klinis pada kandidat.

Kebanyakan yang dibahas oleh media adalah uji klinis pada kandidat menggunakan metode yang belum disetujui pemakaiannya di Amerika, Eropa dan negara maju lainnya. Contoh dari metode yang dimaksud adalah dimana DNA atau RNA akan diambil oleh sel dan akan menciptakan protein virus corona.

Sejauh ini, belum ada vaksin DNA atau RNA yang sudah mencapai persetujuan akhir untuk dipakai, dan belum ada yang pernah diuji secara besar-besaran sebelum munculnya COVID. Perusahaan riset terus mencari cara dan metode baru untuk menemukan vaksin, dan ini meningkatkan standar untuk hasil uji vaksin Fase III serta persetujuan akhir.   

Di Indonesia sendiri, PT Bio Farma tengah membuat formula untuk vaksin dengan bekerja sama dengan Sinovac Biotech. Sebuah perusahaan Cina yang unggul dalam mengembangkan vaksin COVID-19 dan telah mulai fase tengah percobaan pada manusia.

Selain itu Bio Farma juga tengah membuat vaksin bersama Eijkman Institute, dimana percobaan pre-clinical akan dimulai pada awal 2021. Target ini pun telah diundur dari target awal pada kuartal 4 tahun ini. Pada umumnya penemuan sebuah vaksin akan memakan waktu lebih dari satu tahun, namun mari kita tunggu dan lihat perkembangan dari vaksin COVID-19 ini.

Tanpa PSBB dan Lockdown, Apa yang Terjadi?

Swedia merupakan sebuah contoh di mana pemerintah tidak memberlakukan lockdown total. Pemerintah hanya memberikan rekomendasi warga untuk melakukan pembatasan sosial, menganjurkan untuk kerja dari rumah dan menjaga kebersihan.

Rekomendasi tersebut tidaklah ketat dan tidak di bawah peraturan hukum. Jadi, roda ekonomi tetap berjalan. Tapi sepertinya strategi dari Swedia ini bukan yang terbaik. Seperti yang kita bisa lihat pada grafik di bawah, angka kasus infeksi baru harian di Swedia adalah yang tertinggi dibandingkan dengan negara Skandinavia lainnya yaitu Denmark, Finlandia dan Norwegia. Selain itu, angka kematian dari COVID-19 juga tertinggi dibandingkan negara tetangga.

vaksin covid-19
Kasus infeksi baru di Swedia dibandingkan negara tetangga.

Situasi serupa juga dapat kita lihat di Indonesia, di mana pemerintah hanya memberlakukan PSBB di beberapa kota. Semenjak pemerintah melonggarkan PSBB dan memulai fase pemulihan, angka kasus COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Bahkan saat ini Indonesia adalah negara dengan angka kasus COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara. Demi ekonomi Indonesia, pemerintah terus menekankan pentingnya kepatuhan dan disiplin akan protokol kesehatan yang telah dihimbau.  

Vaksin Covid-19 dan The Great Disconnect 

Awal minggu ini dibuka dengan pasar saham global dan pasar obligasi yang melonjak, kebanyakan disebabkan oleh adanya stimulus. Hal ini tentunya mengesampingkan fundamental yang sesungguhnya seperti indikator pertumbuhan ekonomi dan data pengangguran. Fundamental ekonomi belum mencerminkan optimistik dari sentimen pasar.

Senin (15/6) kemarin The Fed mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan program pembelian obligasi korporasi Amerika Serikat di pasar sekunder. Saham global langsung melonjak setelah pengumuman ini termasuk IHSG yang sempat menyentuh level 5.000.

Tetapi #SobatCuan, satu hal yang perlu kita waspadai adalah situasi di Indonesia berbeda dengan di AS. The Fed dapat terus mencetak uang untuk menopang ekonomi, namun beda halnya dengan Indonesia.

Dolar AS memiliki permintaan yang tinggi untuk dipakai bertransaksi di seluruh dunia, berbeda dengan Rupiah. Jadi, ada risiko inflasi jika BI memutuskan untuk mencetak uang secara berlebihan. Keadaan bullish di bursa saham AS kelihatannya dapat bertahan, tapi sebagai investor jangka panjang, perlu dipertimbangkan bahwa keadaan serupa belum tentu memiliki efek yang sama di pasar Indonesia.

Seperti yang sudah kita lihat juga, angka kasus positif terus bertambah. Kelihatannya Indonesia masih tetap harus waspada akan dampak dari COVID-19 ini terhadap ekonomi. Tetap waspada dan tetaplah berhati-hati dalam mengelola investasimu, #SobatCuan. 

Semoga artikel ini bermanfaat bagi #SobatCuan untuk menentukan langkah investasi berikutnya! Nantikan lagi #CerdasCuan di minggu berikutnya!

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Simak juga:

Akibat Covid-19, 8,5 Juta Orang di Indonesia Terancam Jadi Kelompok Miskin Baru

Mengenal Standard and Poor, Perusahaan Pemeringkat Indeks Saham Global

Bursa Saham Global Optimis Pemulihan Ekonomi pasca Covid-19

Recent Articles

Related Stories