Currently set to Index
Currently set to Follow

Analisis: Harga BTC dan ETH Diramal Temui Momen Penguatan Pekan Ini

Bitcoin lagi-lagi harus mendera pekan yang kurang mujur minggu lalu. Setelah sempat menyentuh kembali titik US$40.000 per keping pada pertengahan pekan, sang raja aset kripto ini harus tersungkur kembali di akhir pekan mendekati US$36.000 per keping. Seperti tertuang dalam analisis harga Bitcoin pekan lalu.

Dari sisi teknikal, investor sepertinya masih memilih aksi jual lantaran harga Bitcoin tak kuat menembus ke atas level rerata pergerakan harganya dalam 200 hari terakhir (200-Day Simple Moving Average/SMA) di angka US$40.235,

Kali ini, banyak sekali sentimen buruk yang menghantam Bitcoin. Apa saja sentimen tersebut?

Baca juga: Analisis: Harga Bitcoin Akan Bullish, Ethereum Akan Capai Rekor Tertinggi Pekan Ini

Analisis: Harga BTC dan ETH Diramal Temui Momen Penguatan Pekan Ini, Pluang

Analisis Harga Bitcoin: Kala Pemerintah Global Kini Mulai “Acak-Acak” Bitcoin

Pergerakan harga Bitcoin selama sepekan terakhir digambarkan dalam grafik perdagangan Bitcoin per dua jam di bawah ini. Grafik ini juga menunjukkan pergerakan harga rerata (Moving Average) selama 50 hari terakhir dan MA selama 200 hari, yang masing-masing ditunjukkan dengan garis biru dan hijau, serta indikator Relative Strength Index (RSI).

Adapun penjelasan tentang Moving Average (MA) bisa dibaca di artikel ini sementara detail terkait RSI ada di artikel berikut.

analisis harga bitcoin
sumber: Tradingview

Dari grafik di atas diketahui bahwa harga Bitcoin masih di area negatif setelah MA 50 hari melintang di bawah MA 200 hari. Meski memang, RSI nampaknya masih berada di area netral.

Harga Bitcoin memang terlihat memuncak pada Rabu (26/5) karena pasar sudah mulai mengacuhkan minat Tesla untuk “menghiraukan” Bitcoin dan terpengaruh psikologis investor setelah harga Ethereum kembali naik.

Harga Bitcoin pekan lalu ambyar setelah para investor agak meragukan masa depan Bitcoin setelah regulator keuangan atau pemerintahan di beberapa negara mulai memicingkan mata terhadap aset kripto satu ini. Lantas, apa saja negara-negara yang mulai “pasang kuda-kuda” melawan Bitcoin?

1. Amerika Serikat

Sentimen soal regulasi kripto datang dari Negara Paman Sam.

Otoritas pasar modal AS (Securities and Exchange Commission/SEC) mengatakan berjanji akan berkoordinasi dengan Kongres dan regulator lainnya untuk mengawasi platform perdagangan kripto.

Hal itu disampaikan ketua baru SEC Gary Gensler dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan komisi Jasa Keuangan dan Pemerintahan Umum Dewan Legislatif AS pada Rabu (19/5). Di samping memberikan pengawasan ketat, SEC juga berencana memberikan proteksi yang sama kepada investor di platform kripto, layaknya perlindungan di pasar modal.

“Serangan” pemerintah AS terhadap aset kripto pun berlanjut keesokan harinya. Pada Kamis (27/5), pejabat Departemen Keuangan AS dikabarkan meminta platform dan lembaga kustodian kripto untuk melaporkan segala transaksi kripto di atas US$10.000 kepada Badan Penerimaan AS (Internal Revenue Service).

Hal ini sejalan dengan proposal Presiden AS Joe Biden untuk meningkatkan penerimaan pajak pemerintahan demi membiayai program stimulus ekonomi AS. Kebijakan ini rencananya akan berlaku mulai 2023 mendatang.

2. China

Kabar lain datang dari China. Setelah pada pekan lalu pemerintah China membuat kecemasan dan takut (Fear, Uncertainty, and Doubt/FUD) oleh penegasan kembali tentang aset kripto, kini otoritas negara tirai bambu itu mulai membidik penambangan aset kripto.

Laporan dari South China Morning Post menyebut bahwa pejabat tingkat tinggi China berencana untuk menyusun penalti yang kuat bagi mereka yang ketahuan menambang aset kripto. Salah satu hukumannya adalah masuk ke daftar hitam jasa keuangan, sehingga mereka tak bisa mengakses produk-produk perbankan.

Di dalam rancangan peraturan tersebut, hukuman itu tidak hanya berlaku bagi penamban aset kripto namun juga pusat data, perusahaan telekomunikasi, dan bahkan warnet.

3. Iran

Iran pun melakukan hal serupa dengan China. Dalam pernyataan di televisi setempat pada Rabu pekan lalu, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa pertambangan Bitcoin di Iran dilarang hingga September. Ini lantaran aktivitas pertambangan Bitcoin di Iran bikin suplai listrik tersendat dan merembet pada mati lampu dadakan di beberapa daerah.

Otoritas Iran bahkan menawarkan 200 juta rial kepada warganya jika menemukan lokasi pertambangan Bitcoin ilegal di Iran.

Baca juga: Cara Memulai Investasi yang Tepat Bagi Pemula

Analisis Harga Ethereum

Sementara itu, harga Ethereum memang terlihat menanjak di awal pekan setelah volume perdagangan Ethereum mencapai US$115 miliar pada Senin (24/5). Angka ini mengalahkan volume perdagangan Bitcoin yang hanya US$53 miliar di hari yang sama.

Selain itu, di hari yang sama, token-token yang berada di jaringan Decentralized Finance (DeFi) ternyata memimpin perbaikan kapitalisasi pasar aset kripto awal pekan lalu. Adapun, jaringan ini berjalan di atas sistem Ethereum.

Maker, misalnya melonjak hampir 91% di hari tersebut. Sementara itu, Yearn Finance juga reli sebesar 72% dalam semalam.

Di samping itu, data perusahaan dana amanah Ethereum terbesar dunia, Grayscale, juga mencatat bahwa premiumnya sudah lebih besar 11% dibanding pasar spot ETH. Hal ini menunjukkan bahwa ada minat yang tinggi dari investor institusi terhadap Ethereum.

Hanya saja, sentimen-sentimen regulasi yang menyerang Bitcoin pekan lalu juga berdampak terhadap harga ETH. Memang, jika ada sentimen terhadap pasar kripto secara umum, maka Bitcoin dan altcoin bisa terkena imbasnya. Hubungan positif antara Bitcoin dan altcoin bisa dibaca di artikel berikut.

analisis harga bitcoin
Sumber: Trading View

Analisis Harga Bitcoin Pekan Ini

Setelah melalui pekan yang lagi-lagi tak mengenakkan, lantas bagaimana analisis harga Bitcoin pada pekan ini?

Menurut Cointelegraph, indikator RSI Bitcoin yang melandai ke zona oversold menjadi bukti bahwa para bear traders masih menguasai pasar saat ini. Hal tersebut juga dibuktikan dengan kegagalan Bitcoin menembus angka rerata pergerakan harga selama 200 hari (Simple Moving Average) di angka US$41.014 pada Rabu dan Kamis lalu.

Alhasil, menurut Cointelegraph, Bitcoin bisa jatuh terjerembab jika menuju titik support US$33.000 dan berlanjut ke US$30.000. Sebab, ada kemungkinan trader malah akan melakukan aksi jual ketika melewati titik yang dimaksud.

Namun, jika harga Bitcoin bisa melewati titik SMA 200 harinya, maka trader dan investor perlu mengantisipasi adanya aksi beli yang masif.

Sejatinya, masih ada harapan harga Bitcoin menguat di pekan ini. Data Glassnode menunjukkan bahwa aliran dana sudah mulai kembali mengalir ke dana amanah Bitcoin yang dikelola oleh Grayscale. Hal ini membuktikan bahwa investor mungkin masih mengakumulasi Bitcoin saat harganya jatuh (buy the dip).

Hal ini terlihat dari premium produk dana amanah Bitcoin milik Grayscale (GBTC) yang kian meningkat di akhir Mei. Selama ini, investor membeli GBTC dalam harga diskon. Namun belakangan, nilai diskon terus menipis. Sehingga, ada kemungkinan investor tengah memburu dana amanah Bitcoin di Grayscale yang terlihat di grafik di bawah.

analisis harga bitcoin
Sumber: Glassnode

Sementara itu, Ethereum pun nampaknya masih berada di persimpangan, seperti analisis harga Bitcoin.

Menurut CryptoPotato, tingkat support Ethereum yang perlu diperhatikan adalah US$2.330, US$2.220, dan US$2.035 sementara sisi resistance yang perlu diperhatikan adalah US$2.470, US$2.650, dan US$2.740.

Kini, momentum Ethereum tinggal menunggu indikator RSI. Momen bullish masih tetap ada asal indikator RSI bergerak ke atas titik 50 kembali.

Baca juga: Analisis Pekan Ini: Bitcoin Mengarah ke US$83.000, Ethereum Mengarah ke US$2.600

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Cointelegraph, Crypto Potato

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img