Currently set to Index
Currently set to Follow

7 Faktor yang Mempengaruhi Harga Cryptocurrency

Seperti aset finansial, pergerakan harga crypto ditentukan oleh posisi permintaan dan penawarannya. Berikut adalah tujuh faktor yang mempengaruhi naik-turun harga aset kripto.

Dari sisi penawaran, faktor yang mempengaruhi pergerakan harga aset kripto adalah:

1. Kebijakan Moneter dan Tokenomics

Salah satu faktor terpenting yang menentukan pergerakan harga cryptocurrency adalah besar persediaan aset kripto tersebut. Adapun tata kelola mengenai persediaan aset kripto di pasaran disebut sebagai kebijakan moneter, sementara dampaknya terhadap investor kripto disebut sebagai tokenomics.

Banyak protokol dan koin punya tata kelola tersendiri untuk menentukan jumlah aset kripto yang beredar. Hal tersebut bisa diputuskan melalui cara yang demokratis (melakukan pemungutan suara berdasarkan jumlah kepemilikan aset kripto) atau metode yang lebih terpusat di mana terdapat dewan khusus yang mengendalikan tata kelola persediaan aset kripto.

Beberapa organisasi memilih untuk “membakar” koinnya untuk mengurangi jumlah koin beredar, salah satunya adalah Binance terhadap Binance Coin. Setiap kuartal, Binance membeli kembali (buyback) BNB menggunakan laba yang telah dihimpun dan kemudian menghancurkan atau “membakar” BNB. Peristiwa ini disebut coin burn.

Alhasil, jumlah BNB yang beredar semakin sedikit. Binance berencana untuk melakukan kebijakan tersebut sampai 100 juta keping BNB “terbakar”. Dampak pembakaran koin ini tercermin di dalam pergerakan harga BNB, seperti yang ditunjukkan pada grafik berikut.

Coin Burn BNB

Grafik di atas memperlihatkan bahwa harga BNB menanjak dan menyentuh titik US$600 pada April 2021, alias bertepatan dengan coin burn yang ke-15. Pada bulan itu, Binance membakar 1.099.888 keping BNB bernilai US$595,31 juta. Nilai ini merupakan pembakaran koin terbesar yang dilakukan Binance.  

2. Ongkos Produksi

Sama seperti kegiatan pertambangan barang logam, aksi crypto mining pun membutuhkan biaya “penambangan”.

Di bitcoin mining, misalnya, penambang membutuhkan modal besar untuk membeli komputer dengan daya pemrosesan yang mumpuni. Para penambang membutuhkan piranti keras dengan spesifikasi kompleks karena mereka harus memecahkan teka-teki algoritma yang rumit untuk menerima upah mereka dalam bentuk keping Bitcoin.

Sayangnya, kegiatan tersebut juga membutuhkan daya listrik yang cukup besar. Riset Universitas Cambridge di awal 2021 menunjukkan bahwa penambangan Bitcoin di seluruh dunia menggunakan listrik sampai 121,36 Terawatt-Hour (TWh) dalam setahun, lebih besar dibandingkan konsumsi listrik Argentina di periode yang sama.

Seluruh komponen-komponen biaya tersebut pun tercermin ke dalam penentuan harga Bitcoin.

Sementara itu, faktor yang mempengaruhi permintaan cryptocurrency terdiri dari:

3. Permintaan Terhadap Teknologi Blockchain

Permintaan satu aset kripto akan melonjak jika komunitas kripto banyak memanfaatkan teknologi blockchain yang merupakan rumah dari cryptocurrency tersebut. Ini terjadi lantaran biaya penggunaan blockchain dibayar menggunakan cryptocurrency asli blockchain tersebut. Sehingga permintaan cryptocurrency akan sejalan dengan meningkatnya penggunaan blockchain.

Ada berbagai macam alasan mengapa komunitas kripto mengerubungi satu teknologi blockchain tertentu. Biasanya tiga alasan utamanya adalah skalabilitas transaksi yang lebih baik dibanding teknologi blockchain lainnya, munculnya fitur-fitur baru, serta rendahnya biaya transaksi dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

4. Adopsi Massal dari Investor Ritel dan Institusi

Meningkatnya penggunaan koin secara besar-besar akan menyebabkan kenaikan harga yang kencang. Ini mengingat sebagian besar cryptocurrency memiliki persediaan terbatas, sehingga kenaikan permintaan tentu akan mengerek harganya.

Hanya saja, untuk bisa diadopsi massal, cryptocurrency harus punya manfaat jelas di dunia nyata misalnya bisa digunakan sebagai alat pembayaran sehari-hari.

Cryptocurrency seperti Bitcoin sudah diadopsi oleh investor institusi sebagai instrumen penyimpan kekayaan. Makanya, harganya sempat meningkat dan menembus titik US$60.000 per keping pada awal 2021. Di samping itu, El Salvador juga berencana menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di negara tersebut.

Sementara itu, pola adopsi cryptocurrency oleh investor ritel membentuk kurva berbentuk lonceng, seperti yang diperlihatkan di gambar berikut. Baru 150 juta individu di dunia yang menggenggam aset kripto. Jika dibandingkan dengan jumlah populasi dunia yang di atas 6 miliar jiwa, maka bisa dibilang bahwa adopsi cryptocurrency di dunia masih dalam tahap awal.

Bell Shaped Curve Cryptocurrency

Baik investor ritel dan institusi mulai melirik nilai jangka panjang dari cryptocurrency. Kenaikan harga beberapa aset kripto yang pesat di 2021 menjadi bukti bahwa derasnya permintaan dari investor institusi dan ritel makin terus meningkatkan permintaan dan harga kripto. 

Di samping penawaran dan permintaan, kondisi makroekonomi global juga punya peranan kuat dalam mempengaruhi pergerakan harga aset kripto.

5. Inflasi Mata Uang atau Penurunan Nilai Mata Uang Fiat

Harga aset kripto, terutama koin yang memiliki kegunaan yang jelas, seharusnya meningkat di tengah langkah bank sentral global yang terus mencetak uang dan menerapkan rezim suku bunga rendah.

Hal ini bisa terjadi lantaran karakteristik pasokan uang fiat bertolak belakang dengan cryptocurrency. Persediaan aset kripto terbilang terbatas, sehingga masyarakat seharusnya beralih ke instrumen ini apabila jumlah uang fiat yang beredar semakin banyak.

Penting untuk diingat bahwa Bitcoin tercipta untuk menanggapi pencetakan uang fiat secara besar-besaran, yang saat itu dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia untuk menanggulangi krisis keuangan global. Langkah ini kemungkinan akan terus berulang di setiap resesi ekonomi di mana pemangku kebijakan tidak mempunyai pilihan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi selain memangkas suku bunga acuan atau mencetak lebih banyak uang. 25% dari Dolar AS yang beredar sekarang ini dicetak pada 2020 lalu.

Di samping itu, pemilik aset kripto juga kini berkesempatan untuk mendulang cuan dari kegiatan menabung aset kripto dengan memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari menabung di bank konvensional. Kini, hal tersebut bisa terlaksana seiring maraknya penggunaan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Imbal hasil yang tinggi dan persediaan yang ketat membuat aset kripto bermanfaat sebagai pelindung nilai kekayaan dari gerusan inflasi yang diakibatkan pencetakan uang.

Di aplikasi Pluang, Sobat Cuan juga bisa mendulang cuan hanya dengan menabung Bitcoin dan Ethereum menggunakan fitur PluangCuan. Kamu bisa mendapatkan imbal hasil sebesar 3,5% per tahun jika menabung lebih dari 0,001 ETH atau 0,0005 Bitcoin. Yuk, kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

6. Regulasi Pemerintah

Serangkaian regulasi pemerintah bisa mempengaruhi permintaan maupun penawaran dari aset kripto. Kondisi ini bisa terjadi lantaran pemerintah punya wewenang untuk mengatur, mengenakan pajak, atau bahkan melarang kegiatan cryptocurrency, yang biasanya akan menurunkan harga aset kripto.

Investor kripto Indonesia tidak hanya perlu paham soal regulasi kripto di Indonesia, namun juga mengamati bagaimana dua negara adikuasa, China dan AS, mengatur kegiatan kripto di negara masing-masing.

  • Cina

Pada Mei 2021, otoritas China menerbitkan peringatan mengenai trading dan pertambangan aset kripto. Setelahnya, otoritas China dilaporkan mengadakan pertemuan dengan bank-bank besar sembari menegaskan bahwa institusi perbankan di China tidak boleh terlibat dalam transaksi cryptocurrency.

Gestur otoritas China tersebut membuat harga Bitcoin longsor dari titik rekornya di kisaran US$65.000 menjadi di bawah US$30.000 per keping. Sikap tersebut juga menurunkan tingkat kapasitas pertambangan kripto di China mengingat negara tirai bambu itu mengambil porsi 50% dari hash rate Bitcoin dunia.

  • Amerika Serikat

Amerika Serikat mengesahkan kegiatan tukar menukar aset kripto di bursa kripto, namun bukan sebagai alat tukar resmi. Dewan legislatif AS telah berulang kali ingin mengatur aset kripto karena khawatir bahwa kehadiran mata uang ini dapat mengganggu dominasi Dolar AS di kancah ekonomi global dan dampak aset kripto apabila dipegang dalam jumlah yang besar oleh individu dan institusi. 

Pemerintahan AS di bawah Joe Biden sedang mempertimbangkan untuk mengutip pajak dari kegiatan kripto untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur AS seperti yang dituangkan di dalam RUU Pendanaan Infrastruktur.

  • Indonesia

Indonesia mengesahkan perdagangan aset kripto pada September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa Bitcoin dan aset kripto lain termasuk komoditas. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), badan di bawah Kementerian Perdagangan yang mengatur perdagangan komoditas domestik, kemudian mempersiapkan serangkaian peraturan untuk mengatur aktivitas blockchain dan aset kripto di Indonesia.

7. Momentum

Terakhir, seperti pasar keuangan lainnya, harga aset kripto ditentukan oleh spekulasi. Masing-masing trader ritel, investor institusi, dan lembaga pengelola investasi global (hedge fund) memiliki pandangan berbeda mengenai kondisi pasar dan perbedaan ini bisa mempengaruhi harga aset kripto.

Pergerakan harga di pasar aset kripto bisa sangat cepat dan lebar. Hal ini terjadi karena banyak trader yang memanfaatkan algoritma dalam tukar menukar aset kripto. Jika harga kripto menembus satu titik tertentu, maka sistem algoritma akan mengeksekusi aksi jual atau beli. Aksi ini selanjutnya akan menjadi pemicu bertindaknya trader lain di mana tindakan mereka ini kemudian juga akan mempengaruhi lagi pergerakan pelaku pasar lainnya.

Karena pelaku pasar cenderung kesulitan untuk menilai harga aset kripto melalui aspek fundamental, perhatian kemudian diarahkan oleh isu dan berita yang menghebohkan atau seruan-seruan membeli atau menjual oleh pendukung aset kripto. Misalnya, harga aset kripto bisa jumpalitan ketika influencer aset kripto, seperti punggawa Tesla Elon Musk, mengunggah cuitan atau membuat meme tentang cryptocurrency di akun Twitter-nya.

Kenapa Harga Aset Kripto Sangat Bergejolak?

  1. Pasar digerakkan oleh narasi. Cryptocurrency tidak menghasilkan imbal hasil layaknya instrumen ekuitas yang memiliki data pendapatan dan laba. Nilai aset kripto tidak bisa ditaksir melalui pendekatan pasar modal biasa seperti melalui kinerja keuangan perusahaan atau indikator fundamental tradisional semisal rasio harga saham terhadap pendapatan (price to earning ratio). Yang terjadi adalah, harga aset kripto sangat dipengaruhi oleh narasi atau kabar-kabar tertentu. Misalkan kenaikan harga cryptocurrency 2020 silam yang sangat cepat didorong oleh cuitan Elon Musk di Twitter beserta pandangannya soal aset kripto.
  2. Volume trading di bursa aset kripto tidak dapat diukur, sementara data ukuran on-chain tidak bisa menjelaskan kondisi pasar kripto sebenarnya. Pasar kripto dibentuk dari jaringan platform bursa dan penyedia yang beragam bukan dari satu bursa yang terpusat. Akibatnya, masing-masing platform bursa aset kripto memiliki harga aset kripto yang berbeda-beda satu sama lain. Dengan kata lain, cryptocurrency tidak memiliki satu harga tunggal. Ini berbeda dengan pasar modal konvensional, di mana data harga dan volume sekuritas yang diperdagangkan jelas sesuai dengan aktivitas di bursa saham.
    Investor juga mengalami kesulitan mengukur volume trading aset kripto karena data volume on-chain dari sebuah cryptocurrency tidak mencerminkan total data trading yang terjadi di seluruh platform bursa aset kripto.
  3. Momentum dan volatilitas terjadi kala pasar merespons algoritma tradingSecara teori, harga cryptocurrency antar platform trading kripto tidak berbeda jauh satu sama lain akibat hadirnya perdagangan berbasis algoritma di dalamnya. Namun, pada kenyatannya, penggunaan algoritma untuk trading bisa membuat harga bergerak drastis. Misalnya, penurunan harga sebuah aset kripto akan memicu aksi “jual” jika trader memasang aksi jual otomatis di level harga tersebut. Sayangnya, peristiwa itu juga akan dibaca pelaku pasar lain sebagai aksi jual, sehingga trader lainnya akan ikut latah dengan menjual aset kriptonya.

5 Langkah dalam Menghadapi Volatilitas Harga di Pasar Kripto

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pergerakan harga yang cepat dan tinggi atau volatilitas pasar adalah alamiah dalam pasar kripto. Harga aset kripto bisa naik-turun dalam sekejap, sehingga Sobat Cuan harus terbiasa jika ingin menginjakkan kaki ke jagat kripto.

Berikut adalah lima strategi yang bisa kamu terapkan dalam menghadapi fluktuasi harga aset kripto.

1. Tentukan Toleransi Kerugianmu

Sebagai contoh, kamu mungkin masih bisa mentolerir kerugian jika harga Bitcoin terjun 50%. Sehingga, kamu masih akan menggenggam Bitcoin jika harganya anjlok, misalnya, 40% dari US$30.000 ke US$18.000. Namun, kamu akan segera melepas Bitcoin-mu jika persentase penurunan harganya melebihi 50%.

2. Manfaatkan Fitur Stop Order dan Limit Order

Jika kamu sudah menentukan batas toleransi kerugianmu, maka kamu bisa memanfaatkan tipe-tipe order untuk mengatur risiko gejolak harga cryptocurrency. Di aplikasi Pluang, kamu bisa menggunakan fitur market order untuk meminimalisasi kerugian.

Sebagai contoh, kamu bisa memasang aturan di Pluang untuk melakukan stop-loss, yakni menjual portofolio cryptocurrency jika harganya terjun ke level tertentu. Atau sebaliknya memasang harga di Pluang sehingga cryptocurrency terjual secara otomatis jika harganya menanjak ke satu titik tertentu. Fitur-fitur ini bertujuan agar kamu membukukan laba ketika harga menanjak dan mengakumulasi aset saat harganya rendah.

Pelajari lebih lanjut mengenai fitur trading Pluang dan bagaimana kamu bisa memanfaatkan volatilitas pasar dan momentum pasar menggunakan stops dan limits di tautan berikut.

3. Diversifikasi Aset Kripto

Untuk mendulang imbal hasil kripto yang optimal, kamu perlu menempatkan uang di berbagai jenis cryptocurrency. Salah satu strategi yang cukup mudah adalah dengan menempatkan 33.3% portofolio aset kripto di Bitcoin, 33.3% di Ethereum, dan sisanya di altcoin yang lain. Dengan cara ini, maka 66.7% portofolio berisikan aset dengan nilai kapitalisasi terbesar dan paling likuid dalam kelas aset cryptocurrency.

4. Ambil Untung Kemudian Investasi di Kelas Aset Lain

Kamu akan mendulang cuan jika menjual aset kriptomu di harga yang tinggi. Setelahnya, kamu bisa menggunakan cuan tersebut untuk melakukan diversifikasi di kelas aset lain misalnya emas, reksa dana pendapatan tetap, atau saham.

Memang, aset-aset ini terlihat tidak menarik ketika harga aset kripto sedang turun. Namun ini merupakan pemikiran yang baik untuk memanfaatkan harga yang sedang tinggi dan keuntunganmu yang sudah tercapai di kripto untuk membukukan keuntungan dan diversifikasi ke kelas aset yang lain.

5. Lakukan Strategi Dollar Cost Averaging

Harga aset kripto bisa sangat fluktuatif, sehingga merupakan pemikiran yang baik jika kita memilih untuk melakukan investasi dengan jumlah yang sama dan secara rutin. Strategi yang dikenal dengan Dollar Cost Averaging ini akan mengurangi risiko timing dalam berinvestasi, yakni risiko di mana kamu menyusun portfolio aset kriptomu dengan harga mahal atau menjualnya di harga yang murah.

Dengan strategi ini, kamu akan mendapatkan keping-keping cryptocurrency dalam jumlah banyak saat harganya turun. Nah, jika ternyata tren harga cryptocurrency itu tengah menanjak, maka kamu bisa berhasil mendapatkan aset kripto yang dimaksud dengan harga yang lebih murah.

Cara termudah untuk melakukan Dollar Cost Averaging adalah dengan mengalokasikan suatu persentase pendapatan per bulan misalnya sebesar 30%, untuk berinvestasi kripto secara rutin.

Kini, kamu bisa melakukan Dollar Cost Averaging di Pluang dengan memanfaatkan fitur Pluang Autoinvest. Fitur ini memungkinkan kamu untuk berinvestasi kripto rutin secara mingguan atau bulanan. Yang kamu perlu lakukan adalah menjadwalkan investasi otomatis sehari setelah tanggal gajian agar kamu bisa membangun kebiasaan investasi yang baik. Kenali lebih jauh fitur Autoinvest di sini.

Di samping itu, penting bagimu untuk tidak mementingkan emosi ketika bermain dengan aset kripto.Ingatlah bahwa trader yang berpengalaman juga masih sering termakan perasaan Fear of Missing Out (FOMO) dan berujung pada membeli aset di harga yang tinggi dan sebaliknya panik menjual langsung asetnya karena takut harga anjlok.

Volatilitas bisa menggoyangkan mental investor, termasuk investor paling ahli sekalipun. Seperti petinju kawakan Mike Tyson pernah lontarkan: “Semua orang merasa memiliki rencana, namun rencana itu gagal ketika mulut mereka ditinju”.