Currently set to Index
Currently set to Follow

Prediksi Harga Emas Di Tahun 2030

Ada faktor makroekonomi kuat yang dapat mendorong kenaikan harga emas secara nyata dalam 10 tahun ke depan.

1. Emas Melindungi dari Kenaikan Inflasi yang Tidak Terduga

Ekonomi global telah membaik setelah pandemi Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi yang kuat terlihat terutama di Amerika Serikat dan Cina sementara Asia Tenggara dengan gigih tetap bertahan dengan baik. Lonjakan permintaan masyarakat menyebabkan inflasi di Amerika Serikat naik mencapai 5% yang dipimpin oleh kenaikan tajam harga komoditas. Selain itu, produsen harus menghadapi kenaikan biaya produksi lantaran ketatnya kondisi pasar tenaga kerja.

Jika tekanan inflasi menjadi tidak terkendali, maka harga emas bisa semakin berkilau. Ini lantaran harga emas cenderung bergerak bersama dengan laju inflasi.

Prediksi Harga Emas
Sumber: Statista

Pada tahun 2021, para pembuat kebijakan tampaknya puas bahwa tekanan inflasi bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kebijakan makroekonomi yang hati-hati. Tetapi jika inflasi meningkat tajam, emas akan sangat diuntungkan karena harga aset riil akan meningkat untuk menyesuaikan.

2. Emas Berkinerja Baik Saat Bank Sentral Melonggarkan Kebijakan Moneter

Harga emas berpotensi meningkat kala bank sentral memberlakukan rezim suku bunga rendah. Ingat bahwa emas adalah instrumen yang tidak menghasilkan pendapatan bunga, maka kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan opportunity cost dalam menggenggam emas. Dengan kata lain, “ongkos” dalam menggenggam emas relatif akan turun ketika suku bunga acuan rendah atau mendekati 0%.

Kondisi tersebut terjadi selama pandemi COVID-19, di mana The Fed telah menurunkan target kisaran suku bunga acuan Fed Fund Rate mendekati 0%.

Prediksi Harga Emas

Di samping itu, harga emas juga bisa kian mantap jika pemerintah negara maju, termasuk AS, berniat mencetak uang lebih banyak.

Harga aset riil, termasuk emas, seharusnya meningkat ketika pasokan uang melimpah. Sebab, ketika jumlah uang bertambah, maka masyarakat memiliki semakin banyak dana untuk mendapatkan emas.

Kondisi tersebut terlihat dalam beberapa waktu terakhir, di mana The Fed telah mencetak uang terus menerus dan bahkan menggandakan ukuran neracanya dari sekitar US$3,5 triliun menjadi hampir US$7 triliun dalam waktu yang cepat.

Prediksi Harga Emas

Pemerintahan negara-negara di seluruh dunia tampaknya punya sedikit pilihan kebijakan dalam memulihkan perekonomian masing-masing setelah diterjang pandemi COVID-19. Negara-negara ini juga terpaksa berhutang lebih banyak. Kenaikan suku bunga acuan akan membebani mereka dengan pembayaran bunga utang yang lebih tinggi yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi karena berkurangnya kemampuan untuk membelanjakan uang untuk barang dan jasa. 

Kondisi ini juga yang telah dialami kebanyakan pemerintah dan bank sentral selama krisis keuangan global 2007 silam. Saat itu, The Fed untuk pertama kalinya memperkenalkan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), yakni kebijakan di mana The Fed menyuntik lebih banyak uang ke perekonomian dan pasar keuangan dengan mencetak Dolar AS, membeli instrumen keuangan dan juga mematok suku bunga acuan jangka pendek mendekati 0%.

Hanya saja, kebijakan ini menuai kritik. Beberapa pihak berpendapat bahwa setiap kali The Fed melakukan quantitative easing, maka otoritas moneter itu kian memiliki ruang sempit untuk memangkas suku bunga acuannya jika terjadi krisis lain di masa depan.

Pada saat krisis keuangan global, The Fed masih memiliki ruang lebih dari 5 persen untuk memangkas suku bunga acuan untuk mendekati 0%.  Namun selama pandemi COVID-19, bank sentral tersebut hanya bisa menyunat suku bunga acuan dari sebelumnya 2 persen menjadi kembali mendekati 0%.

The Fed juga bimbang untuk menaikkan suku bunga acuan di tengah periode reflasi lantaran beban utang yang kian berat. Akibatnya para pembuat kebijakan moneter tidak memiliki pilihan selain terus mencetak uang demi memulihkan pertumbuhan ekonomi. Selama dua krisis ekonomi besar yang telah terjadi dalam 15 tahun terakhir, neraca The Fed telah tumbuh tujuh kali lipat dari US$1 triliun menjadi hampir US$7 triliun.

Harga emas telah terus mengekor laju pencetakan uang. Selama pemerintah terus mencetak uang, maka secara teori, harga emas pun akan terus merangkak naik. 

Gambar di bawah menunjukkan perkembangan harga emas (kiri) dibandingkan dengan total neraca bank sentral Swiss, AS, RRC, Jepang, dan European Union (kanan). 

Prediksi harga emas

3. Situasi Geopolitik Jadi ‘Berkah’ bagi Emas

Harga emas akan diuntungkan ketika AS dan China ‘berperang’ untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia yang paling utama. Ketegangan geopolitik antara kedua negara ini bisa menimbulkan ketidakpastian ekonomi, sehingga pamor emas sebagai aset safe haven akan naik.

Pandemi COVID-19 hanya membuat persaingan antara AS dan China kian memanas di mana masing-masing berniat melemahkan baik kaitan rantai pasok (supply chain) yang tersambung di antara kedua negara maupun hubungan penting dalam hal lain. Usaha ini bertujuan supaya perekonomian AS dan Cina tidak lagi saling tergantung seperti dulu, terutama dalam perdagangan dunia.  

Selain itu, salah satu topik yang bikin kancah geopolitik AS kian tegang adalah soal penggunaan Dolar AS dalam transaksi perdagangan global. Beberapa negara adidaya saingan AS menuduh bahwa penggunaan mata uang tersebut hanya menguntungkan negara Paman Sam itu secara sepihak.

Meskipun AS hanya menyumbang 20% volume perdagangan global, namun 80% dari seluruh transaksi perdagangan dilakukan menggunakan Dolar AS. Pemanfaatan Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia meningkatkan kekuatan ekonomi AS mengingat hanya bank sentral AS saja, alias The Fed, yang punya wewenang untuk mencetak Dolar AS.

Oleh karenanya, kalau AS dapat dengan mudah mencetak lebih banyak uang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, negara-negara lain yang juga harus mencetak uang mereka (untuk menggerakkan perekonomian) akan menghadapi resiko pelemahan nilai mata uang yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas ekonomi domestik mereka.

Beberapa negara sudah melakukan usaha untuk melemahkan faktor Dolar AS ke negara mereka . Rusia sudah mulai menggunakan emas sebagai aset cadangan utama bank sentralnya, sementara China terlihat mendorong penggunaan Yuan dalam perdagangan bilateral dengan mitra dagang utamanya.

Jika semakin banyak negara melepas ketergantungan terhadap Dolar AS, maka emas bisa diuntungkan karena sang logam mulia ini memang telah menjadi mata uang cadangan yang sudah diterima secara luas. Sejatinya, kondisi ini seperti mengulang sejarah, mengingat emas memang dikenal sebagai mata uang sejak zaman Mesir kuno.

Seiring kancah politik dunia terbelah ke dalam beberapa kutub, harga emas seharusnya akan terus menunjukkan keperkasaannya di masa depan.