Currently set to Index
Currently set to Follow

Investasi Langsung dalam Kelas Aset Vs Investasi di Reksadana

Sobat Cuan mungkin sudah memahami bahwa reksadana adalah sarana bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke beberapa kelas aset tanpa berinvestasi di aset-aset tersebut secara langsung. Namun, pertanyaannya, manakah cara berinvestasi yang baik bagimu? Berinvestasi di kelas aset secara langsung? Atau menggunakan reksadana?

Mungkin pemikiran pertamamu bahwa lebih baik berinvestasi langsung di kelas aset jika kamu pede bahwa kemampuanmu lebih jago ketimbang manajer investasi.

Namun pada dasarnya, ini bukan pertimbangan satu-satunya yang kamu perlu pikirkan. Mungkin pengetahuan investasimu memang mahir, tapi apakah kamu dapat bertransaksi dengan skala ekonomis? 

Nah, dalam hal ini, kamu mungkin harus mengaku kalah dari Manajer Investasi mengingat mereka bisa menciptakan rasio ongkos investasi terhadap nilai aset kelolaan (Asset Under Management) yang lebih rendah darimu. Mereka bisa melakukan hal itu lantaran mengelola dana dalam jumlah yang banyak yang dikumpulkan dari sekian banyak investor. 

Berikut adalah keunggulan investasi reksadana dibandingkan investasi langsung dalam kelas aset.

1. Risk-Adjusted Return Pasar Uang dan Pendapatan Tetap Lebih Baik Melalui Reksadana

Apabila kamu ingin berinvestasi dalam pasar uang dan pendapatan tetap, hampir tidak mungkin bahwa kamu dapat menyaingi kemampuan Manajer Investasi dalam mengelola risiko, tingkat imbal hasil, dan tingkat likuiditas. Surat utang pemerintah atau perusahaan pada umumnya diterbitkan dalam satuan Rp1 miliar per unit obligasinya. Kamu akan kewalahan membangun portofolio terdiversifikasi yang setara dengan manajer investasi, kecuali jika kamu memiliki modal lebih dari Rp30 miliar. Reksadana pendapatan tetap memungkinkan kamu untuk memiliki akses ke pendapatan tetap tanpa terhambat nilai modal awal ini.

Selain itu, menempatkan uang di reksadana pasar uang juga merupakan ide yang lebih baik apabila pilihan alternatif mendulang cuan yang tersisa bagimu selama ini hanyalah dari menabung di bank.

Seperti yang kamu tahu, pendapatan bunga dari bank terbilang mini, bahkan bisa saja kamu tidak mendapatkan pendapatan bunga sama sekali. Ditambah lagi, kamu pun dibebani biaya administrasi yang tinggi, sehingga menabung di bank bisa-bisa bikin kamu rugi. Menurut The Jakarta Post, kamu baru bisa untung dalam menabung jika memiliki saldo di atas Rp15 juta di rekeningmu. Sehingga lebih baik bagimu untuk memarkirkan dana di reksadana pasar uang yang menawarkan imbal lebih tinggi. 

Jika kamu ingin dapat cuan yang lebih mantap, kamu bisa memilih berinvestasi di reksadana pendapatan tetap. Ini pilihan yang bisa diambil apabila kamu siap menunggu lebih dari satu hari kerja saat kamu memutuskan untuk mencairkan reksadana pendapatan tetap.

Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi akan mengalokasikan dana investor ke instrumen utang jangka panjang. Semakin panjang tenor instrumen utang, maka risiko durasi pun akan semakin tinggi. Perusahaan penerbit harus menawarkan kupon yang lebih tinggi untuk mempermanis obligasinya sehingga aset tersebut mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih baik.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, investor individu dengan modal investasi di bawah Rp30 miliar tidak mampu melakukan diversifikasi aset dan mencapai skala ekonomis yang setara dengan manajer investasi. Investasi langsung di obligasi hanya mampu dilaksanakan orang super kaya, investor institusi dan manajer investasi. 

Memindahkan dana dari rekening bank ke reksadana pendapatan tetap dan pasar uang adalah cara mudah bagimu untuk meningkatkan imbal hasil dengan sedikit saja kenaikan risiko. Yang perlu diingat adalah memastikan bahwa kas cadangan tetap cukup di saldo tabunganmu untuk menutupi kebutuhan tiga hingga lima hari ke depan karena pencairan reksa dana membutuhkan beberapa hari kerja.

Pluang telah bekerja sama dengan PT UOB Asset Management untuk menciptakan reksadana pasar uang dan pendapatan tetap eksklusif di aplikasi Pluang. Melalui produk reksadana ini, tim UOB akan menempatkan dana investor di deposito bank, obligasi pemerintah, dan obligasi terbitan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dipercaya bisa membantu investor meningkatkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return).

2. Reksadana Saham Lebih Efisien Ketimbang Investasi Saham

Hal ini bisa terjadi karena manajer investasi bisa menciptakan skala ekonomis tinggi dalam melakukan riset dan trading. Mereka bisa melakukannya karena mereka memiliki tim riset dan analis dengan jam terbang tinggi untuk meneliti semua aspek dari pasar saham. Dengan reksadana saham, kamu bisa mendapatkan eksposur ke beberapa nama di pasar saham secara murah tanpa banyak pemikiran dan tenagamu sendiri dibandingkan kamu sendiri yang terjun ke pasar saham dan memilah-milah saham dan sektor.

3. Reksadana Saham Pasif Sebagai Sarana ‘Diversifikasi Murah’

Reksadana “pasif” atau produk Exchange-Traded Fund (ETF) mungkin adalah jalan termurah (dan termudah) bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke pasar saham. 

Investor bisa berinvestasi di reksadana yang nilainya mengikuti kinerja indeks saham (index tracking fund) jika mereka ingin mendapatkan eksposur dari performa pasar secara menyeluruh. Salah satu contohnya adalah produk  BNI-AM Indeks IDX30 di mana komposisi reksadana akan terus mengikuti pembobotan nilai kapitalisasi saham yang bebas diperdagangkan untuk umum (free float market capitalization).

4. Reksadana ‘Aktif’ Berfokus Untuk Mengalahkan Kinerja Pasar Modal

Dalam mengelola reksadana yang dikelola secara aktif, manajer investasi berfokus untuk menempatkan dana investor di perusahaan-perusahaan dan sektor ekonomi spesifik. Tujuannya, agar kinerjanya bisa mengalahkan performa pasar modal secara keseluruhan. Dalam mengelola reksadana “aktif”, manajer investasi akan menggabungkan analisis teknikal dan fundamental untuk “memilih pemenangnya”.

Biasanya, “pemenang” tersebut adalah saham-saham terbitan perusahaan berkinerja baik namun harga sahamnya lebih rendah dibanding potensi sesungguhnya. Manajer investasi yakin bahwa pertumbuhan nilai saham-saham tersebut mampu mengalahkan rata-rata kinerja pasar modal di masa depan.

Mending Investasi Saham Tunggal atau Reksadana Saham?

Kapan membeli saham tunggal adalah pilihan baik untukmu?

Kamu bisa membeli saham tunggal jika kamu senang membaca perkembangan terkini soal perusahaan, mengikuti pergerakan pasar harian, dan yakin bahwa informasi yang kamu cerna bisa membawamu mendulang cuan yang lebih baik dari rata-rata imbal hasil di pasar modal. Ibaratnya, bagimu mengamati harga saham sebuah perusahaan adalah hal yang seru layaknya menyerap semua kabar dan informasi tim olahraga favorit.

Membeli saham-saham tunggal juga memungkinkanmu untuk fokus menaruh uang di suatu industri atau perusahaan yang tertentu dan terus menyeimbangkan komposisi portofolio sesuai dengan kabar terbaru dan keputusanmu sehingga kamu memiliki kendali penuh atas investasimu.

Kapan membeli reksadana saham adalah pilihan baik untukmu?

Pada umumnya, jika kamu mencari produk investasi yang kinerjanya mengikuti performa indeks saham, kamu bisa berinvestasi di reksadana yang mengikuti indeks saham. Selain itu, berinvestasi di reksadana indeks seharusnya menjadi sumber diversifikasi yang murah bagimu ketimbang membeli saham tunggal. Sebab, kamu tentu memerlukan portofolio berukuran besar agar bisa melakukan diversifikasi secara efisien.

Namun kamu juga bisa berinvestasi di reksadana saham jika kamu yakin bahwa strategi investasi milik manajer investasi tertentu bisa mengantarmu mendulang cuan. Menaruh dana di produk tersebut bisa menjadi cara efisien bagimu untuk melancarkan strategi tersebut dibanding menirunya. Terlebih, kamu pasti perlu melaksanakan riset yang dalam sebelum bisa meniru strategi sang manajer investasi tersebut.