Currently set to Index
Currently set to Follow

6 Faktor Mempengaruhi Harga Saham

Secara umum, terdapat enam faktor utama yang mempengaruhi harga saham sebuah perusahaan. Pada kenyataannya, faktor-faktor di bawah ini bisa saling berkorelasi dan berhubungan. 

1. Kinerja Perusahaan

Harga saham sebuah perusahaan tentu saja dipengaruhi tentang kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan yang tingkat labanya tumbuh dengan kecepatan yang tak terduga akan melihat harga sahamnya meroket.

Sebuah perusahaan akan merilis laporan keuangan mereka setiap kuartalnya. Sebelum laporan itu dirilis, para analis (dan investor) akan memperkirakan laba perusahaan tersebut dan pasar akan mulai bergerak untuk menyesuaikan harga terhadap pandangan mereka. Nah, setelah laporan keuangan keluar dan menunjukkan bahwa laba perusahaan melebihi perkiraan, maka harga sahamnya akan melonjak. Begitu pun sebaliknya, harga saham akan jatuh jika gagal memenuhi harapan tersebut.

Sebuah perusahaan hidup di ekosistem luas yang mencakup sektor industri yang digelutinya, keadaan makroekonomi, dan tentu saja perkembangan pasar modal. Maka, tak heran jika harga saham juga ikut dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di ketiga faktor tersebut.

Adapun faktor makroekonomi yang mempengaruhi kinerja perusahaan, dan kemudian mempengaruhi harga saham, mencakup tren ekonomi dan bunga kredit. Berikut penjelasannya.

2. Tren Ekonomi

Tingkat permintaan agregat dalam sebuah perekonomian akan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk meningkatkan labanya. Selain itu, nilai sebuah saham juga tergantung oleh naik-turun suku bunga acuan. Suku bunga acuan yang rendah akan menarik lebih banyak investor yang bersedia membeli saham-saham tersebut. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa indeks saham di dunia sekarang ini terus mencetak rekor, karena mereka mekar saat tingkat suku bunga sekarang berada di titik terendah dalam 60 tahun terakhir.

3. Tingkat Bunga Kredit

Ketika bunga kredit tengah melandai, maka investor cenderung meminjam uang dari bank untuk kemudian diinvestasikan di pasar saham. Akibatnya, harga saham-saham pun ikut terkerek naik.

Biasanya, nilai bunga kredit yang rendah ini juga diikuti oleh tingkat likuiditas yang tinggi.

Sebagai contoh, pada 2020 lalu, bank sentral AS The Fed menurunkan suku bunga acuannya (Federal Funds Target Rate) menjadi 0,00 – 0,25% sembari mencetak Dolar AS senilai hampir US$3 triliun, atau sekitar 20% dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS. Mayoritas uang cetakan baru ini mengalir langsung ke pasar modal karena masyarakat AS menginvestasikan uang bantuan stimulusnya di pasar yang tengah berkembang. Kenaikan likuiditas ini mendongkrak nilai S&P 500 dan Nasdaq ke rekor tertingginya.

Di sisi lain, pihak perbankan akan meminta balik pinjaman yang telah disalurkan jika terjadi kepanikan pasar. Hal ini akan berimbas ke keringnya likuiditas di pasar saham. Sementara itu, mereka yang telah meminjam uang untuk berinvestasi saham dipaksa untuk melikuidasi asetnya demi melunasi pinjaman perbankan. Aksi jual ini mengakibatkan harga saham bisa tenggelam secara mendadak. Penggunaaan hutang untuk berinvestasi keuangan cenderung mengakibatkan harga saham untuk terjun bebas secara tiba-tiba saat kepanikan melanda. 

Selain itu, seperti aset finansial pada umumnya, pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar seperti berikut

4. Permintaan dan Penawaran

Seperti barang dan jasa kebanyakan, nilai saham juga ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran. 

Nilai sebuah perusahaan di jangka panjang memang akan sesuai dengan laba yang ditorehkannya. Namun, di jangka pendek, terdapat alasan lain mengapa beberapa pelaku pasar berniat membeli atau menjual saham di luar prospek kerjanya ini. 

Contohnya pada saat harga saham produsen mobil listrik Tesla meroket menjadi salah satu dari 10 perusahaan top di AS. Akibatnya pengaruh saham Tesla dalam indeks saham lebih besar dan para Manajer Investasi yang mengelola reksadana indeks harus mengubah proporsi portofolio mereka untuk menyesuaikan dengan proporsi indeks. Harga pun makin meningkat karena permintaan “susulan” dari Manajer Investasi ini.  

5. Likuiditas dan Aliran Dana

Harga saham juga dipengaruhi oleh derasnya aliran dana yang masuk ke pasar modal. Terkadang, berita atau kehebohan pasar bisa memicu masuknya dana ke satu saham tertentu.

Sebagai contoh, di awal 2021 lalu, investor ritel yang merupakan bagian dari forum internet Reddit mulai memborong saham Gamestop. Aktivitas tersebut bikin harga saham perusahaan jaringan toko game tersebut melesat lebih tinggi dibanding nilai fundamentalnya.

Komunitas Reddit yang mendukung saham ini beradu dengan para lembaga pengelola investasi global (hedge fund) yang menganggap harga Gamestop kemahalan dan berniat untuk menekan harga saham perusahaan melalui short selling. Akibatnya, harga saham Gamestop pun bergerak naik-turun terus menerus.

Short selling adalah aktivitas di mana trader mengambil cuan dari sebuah saham jika mereka beranggapan bahwa nilainya akan terus melorot. Beberapa pasar keuangan tertentu memungkinkan pelaku pasar meminjam saham kepunyaan pihak lain untuk kemudian dijual . Jika harga saham berhasil ditekan turun, maka pelaku pasar tersebut bisa membeli saham dengan harga yang murah kemudian mengembalikannya ke pihak yang meminjamkan. Dalam aktivitas ini, pelaku pasar yang pertama akan mendapat cuan dari selisih antara nilai penjualan saham yang dipinjamnya dengan nilai pembelian saham yang lebih murah tersebut.

6. Kesepakatan Bisnis

Perusahaan cenderung akan mengakuisisi perusahaan lain jika mereka yakin bahwa aksi korporasi tersebut bisa menopang pertumbuhan bisnisnya dengan cepat. Makanya, tak heran jika perusahaan pengakuisisi akan membeli saham korporasi incarannya dengan harga lebih mahal (harga premium) dibanding harga pasarnya saat ini.

Ketika kesepakatan tersebut marak terjadi, maka pasar modal akan menjadi “kepanasan”. Rasio valuasi perusahaan lain yang bergerak di sektor yang sama dengan perusahaan yang diakuisisi, akan melesat. Hal ini disebabkan oleh antisipasi pelaku pasar bahwa merger dan akusisisi baru di sektor itu masih akan terus terjadi karena kekuatan baru perusahaan yang telah melakukan akuisisi tersebut memaksa perusahaan pesaingnya untuk mencari cara supaya mereka bisa bertahan.