Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: E-Commerce Tumbuh Drastis, ETF Bitcoin Laris Manis

Rangkuman kabar akhir pekan, Jumat (22/10), mengulas tentang optimisme atas masifnya pertumbuhan e-commerce. Selain itu, pengajuan klaim bantuan pengangguran di AS ternyata mencapai level terendah dalam hampir dua tahun! Yuk, simak bersama!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Transaksi E-Commerce Tembus Rp395 Triliun

Bank Indonesia memproyeksi nilai transaksi niaga-el (e-commerce) tahun ini mencapai Rp395 triliun, alias tumbuh 48,4% dibanding tahun lalu.

Transaksi e-commerce di Indonesia terus melesat sejak 2017 seiring berkembangnya teknologi dan transaksi digital. Bahkan, dalam setahun terakhir, masyarakat pun terlihat getol berbelanja daring akibat berdiam di rumah gara-gara pandemi COVID-19.

Terlebih, saat ini sudah banyak sarana instrumen pembayaran digital seperti Quick Response Indonesia Standards (QRIS) yang telah bekerja sama dengan perbankan. BI mengklaim bahwa sistem pembayaran ini telah digunakan oleh 11,4 juta merchant di Indonesia.

Apa Implikasinya?

Transaksi e-commerce yang tinggi mengindikasikan beralihnya pola konsumsi masyarakat jadi lebih terdigitalisasi. Sehingga, industri ini memiliki peluang yang besar untuk tumbuh pesat.

Selain itu, kehadiran lokapasar (marketplace) yang menjadi penghubung penjual dan pembeli secara daring bisa membuka kesempatan pelaku usaha untuk melebarkan sayap usahanya. Kegiatan tersebut akan menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas, seperti pembukaan lapangan pekerjaan dan kenaikan pendapatan.

2. Investasi Listrik Seret di Tengah Krisis Energi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi investasi ketenagalistrikan sebesar US$4,22 miliar hingga September 2021. Artinya, realisasi tersebut hanya mencapai 42,6% dari target US$9,91 miliar sepanjang tahun ini.

Di sisi lain, Kementerian ESDM juga mencatat bahwa realisasi penambahan pembangkit per September 2021 baru mencapai 936,63 Megawatt (MW), atau 15,1% dari target 2021 yakni 6.187,91 MW.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana berdalih kondisi pandemi yang menerpa Indonesia menjadi penyebab rendahnya realisasi tersebut.

Apa Implikasinya?

Realisasi investasi dan penambahan pembangkit yang masih loyo akan membuat pemerintah kewalahan mengatasi kenaikan permintaan listrik per tahunnya. Jika itu tak terpenuhi, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa menghadapi krisis listrik dan gagal mencapai rasio elektrifikasi 100%.

Baca juga: Rangkuman Kabar: China Intervensi Batu Bara, ETF Bitcoin Jadi Juara

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. Pengajuan Klaim Pengangguran AS Terendah dalam 1,5 Tahun

Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat mencatat jumlah klaim bantuan pengangguran pada pekan ini sebesar 290.000, atau menurun 6.000 dari pekan sebelumnya. Level tersebut adalah angka klaim tunakarya terendah dalam 19 bulan terakhir.

Hal ini tak mengherankan mengingat tingkat pengangguran AS ada di angka 4,8% pada September 2021, atau turun dari 5,2% di Agustus.

Hanya saja, bursa tenaga kerja AS mengalami pengetatan karena keahlian yang dibutuhkan pemberi kerja tak sesuai dengan penawarannya. Bahkan, pemberi kerja kini harus berpikir dua kali sebelum mengurangi pendapatan para pekerja jika tidak ingin kehilangan mereka di tengah ketatnya bursa tenaga kerja.

Apa Implikasinya?

Rendahnya angka klaim tunakarya AS mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi AS tengah berada di jalur yang benar. Sehingga, data tersebut mungkin bikin The Fed semakin optimistis untuk mempercepat kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR).

2. Saking Populernya, Produk ETF BTC Hampir Ludes di Pasaran

Produk Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis kontrak Bitcoin yang diluncurkan ProShares dengan ticker BITO kini menghadapi risiko serius dari tingginya permintaan.  Pasalnya, Bitcoin merupakan aset kripto yang jumlahnya terbatas.

Dalam beberapa hari, BITO telah menjual 1.900 kontrak untuk bulan Oktober. Padahal, Chicago Merchantile Exchange membatasi kontrak bulanan tidak boleh melampaui 2.000.

Alhasil, mereka pun mulai menjual kontrak bulan November yang kini sudah laku 1.400 kontrak.

Apa Implikasinya?

Tingginya permintaan terhadap kontrak Bitcoin dalam bursa berjangka akan semakin meningkatkan kelangkaan Bitcoin.

Dalam jangka pendek, ini akan memicu reli harga BTC yang kian bertenaga. Namun risiko yang membayangi juga tinggi, apalagi jika gap kontrak kian panjang yang mengakibatkan sulitnya memprediksi harga dalam rentang selama itu mengingat fluktuasi BTC tiap menit saja sudah cukup tinggi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coin Telegraph, Reuters, Kontan, CNN Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img